17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Langkah kaki Humbalang terdengar tenang, mengayun perlahan di atas rerumputan basah Hutan Kumayan. Di belakangnya, Putra Alam mengikuti dengan setengah penasaran, setengah gelisah. Ia tahu, latihan hari ini bukan sekadar latihan fisik biasa, melainkan awal dari pengenalan jati dirinya sebagai pewaris Inyek manusia harimau. Humbalang sesekali menyingkap dedaunan, memperlihatkan jejak-jejak samar di tanah jejak hewan, jejak angin, jejak pergeseran energi bumi yang tak kasat mata. Ia berjalan pelan, seolah mengajak Putra Alam memahami bahwa ilmu mereka bukanlah kekuatan sekadar mengandalkan cakar dan taring, tapi mendengar bisikan hutan, merasakan getaran bumi, dan menyatu dengan setiap unsur kehidupan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Lihat sekitar, Nak. Dengarkan baik-baik. Apa yang bisa kau dengar?" ucap Humbalang dengan suara pelan namun tegas.
Putra Alam memicingkan mata, mencoba fokus. Ia mendengar desiran angin di antara dedaunan, gemericik air sungai kecil di kejauhan, dan sesekali kicauan burung yang bersahutan. Tapi, di luar itu, ada sesuatu yang lain. Suara yang samar-samar, seperti bisikan halus yang muncul dari dalam tanah.
" Alam... Alam bisa dengar suara di dalam tanah, Yah." ucap Alam ragu-ragu.
" Itulah suara ibu bumi. Itulah panggilan tanah tempat kita berpijak. Kekuatan kau, Alam, bukan hanya dari tubuh kau. Tapi dari hubungan kau dengan bumi ini." ucap Humbalang tersenyum tipis. Ada kebanggaan di wajahnya, meski tak diucapkan.
Mereka terus berjalan, hingga tiba di sebuah batu besar yang separuhnya tertanam di tanah. Humbalang duduk di atasnya, lalu menepuk permukaan batu itu pelan. Putra Alam memperhatikan.
" Sentuh batu ini. lalu tutup mata kau, Nak." ucap Humbalang.
Putra Alam mengikuti perintah ayahnya. Begitu tangannya menempel di permukaan batu, sensasi aneh merambat di telapak tangannya. Seolah ada aliran energi yang bergerak perlahan dari batu ke tubuhnya, mengalir ke jantung, lalu ke seluruh tubuhnya. Dadanya terasa hangat.
" Apa ini, Yah?" ucap Alam terkejut.
" Itu adalah ingatan hutan. Batu ini menyimpan jejak para leluhur kita. Kekuatanmu bisa menyatu dengan kekuatan mereka jika kau mau mendengarkannya." ucap Humbalang.
Putra Alam masih memejamkan matanya. Dalam gelapnya pandangan, ia seperti melihat bayangan-bayangan samar para inyek tua berkeliaran di hutan ada yang melompat di antara pepohonan, ada yang duduk bersila di atas akar-akar besar, dan ada pula yang sekadar berdiri memandangnya dari kejauhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.