17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Kamar hostel tampak berantakan dengan kertas berserakan di meja dan lantai. Laptop-laptop menyala, memancarkan cahaya biru ke wajah-wajah yang terlihat serius. Risa, Dania, Siska, Adinda, dan Jena masih sibuk dengan tugas mereka.
" Ada yang bisa bantuin aku cek data ini nggak? Aku takut salah input." ucap Jena masih menatap layar laptop.
" Bentar, aku lihat." ucap Dania meraih kertas di depannya.
Sementara itu, Risa mulai gelisah. Ia menatap pintu kamar hostel dengan cemas, menggigit bibirnya. Sesekali ia melirik jam di ponselnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Key, kamu ke mana sih?" ucap Risa setengah berbisik, pada dirinya sendiri.
Adinda menyadari perubahan ekspresi Risa dan menoleh ke arahnya.
" Risa, kamu kenapa? Kelihatan nggak tenang dari tadi." ucap Adinda berhenti mengetik.
" Key. Dia belum balik dari tadi. Kan cuma beli makanan doang, tapi sampai sekarang belum ada kabar." ucap Risa sambil menghela napas.
" Mungkin dia ketemu sama teman atau singgah ke tempat lain?" ucap Siska melihat ke arah Risa.
" Tapi biasanya dia selalu kabarin aku kalau ada apa-apa." ucap Risa geleng kepala, ragu.
" Mungkin sinyalnya jelek. Jangan terlalu khawatir dulu." ucap Jena berusaha menenangkan.
Tapi Risa tetap gelisah. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir di kamar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kalau sampai lima menit lagi dia nggak balik, aku bakal nyari dia." ucap Risa dengan suara lebih pelan, hampir bergumam.
Dania menatap Risa dengan prihatin, lalu menoleh ke yang lain.
" Kayaknya Risa bener-bener khawatir sama Key." ucap Dania berbisik ke Siska.
" Iya. Mereka kan sahabatan dekat." ucap Siska mengangguk pelan.
Ketegangan semakin terasa. Sementara itu, laptop-laptop tetap menyala, tapi perhatian semua orang mulai teralihkan dari tugas mereka ke rasa cemas yang dirasakan Risa.