17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Bu Puspa berdiri di depan meja dapur, perlahan menuangkan kopi panas ke dalam sebuah cangkir untuk suaminya. Aroma kopi yang khas menguar di udara, memenuhi ruangan kecil itu. Namun, tiba-tiba Gelas yang dipegangnya terlepas dari genggaman. Cangkir itu jatuh ke lantai dengan bunyi pecahan yang nyaring, kopi panas berceceran di ubin, bercampur dengan serpihan kaca yang berserakan.
Bu Puspa tersentak. Tangannya sedikit gemetar, matanya membelalak, dan dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tiba-tiba datang tanpa alasan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Ya Allah... apa ini?" ucap Bu Puspa berbisik, penuh kegelisahan.
Ia menatap tangannya yang masih terasa panas dan gemetar. Ada sesuatu yang tidak beres. Hatinya tiba-tiba dipenuhi perasaan cemas yang begitu besar, seolah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Bu Puspa segera mengangkat pandangannya, melihat ke arah pintu dapur yang terbuka sedikit. Suara dari ruang depan terdengar samar, tetapi pikirannya sudah melayang jauh.
" Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?" ucap Bu Puspa bergumam pada diri sendiri, semakin cemas.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengusap dadanya, mencoba menenangkan diri, tetapi bayangan buruk mulai mengisi kepalanya. Tanpa berpikir panjang, Bu Puspa berjalan tergesa-gesa keluar dari dapur, napasnya sedikit tersengal. Hatinya masih diliputi kecemasan yang tak beralasan. Matanya segera mencari sosok suaminya, Datuk Abu, yang biasanya duduk di kursi kayu dekat jendela, menikmati secangkir kopi yang baru saja hendak ia buatkan.
" Abang? Di mana kau?" ucap Bu Puspa bersuara agak tinggi, cemas.
Suara derit kursi terdengar. Datuk Abu menoleh dari tempatnya duduk, alisnya berkerut melihat istrinya yang tampak gelisah.
" Ada apa, Puspa? Kenapa kau tampak begitu panik?" tanya Datuk Abu dengan nada tenang.
Bu Puspa berhenti tepat di depan suaminya. Menatap suaminya seolah berusaha meredakan getaran dalam dirinya.
" Aku... aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, Bang. Perasaanku gelisah sekali. Tadi, gelas yang aku pegang tiba-tiba jatuh, tanganku bergetar sendiri." ucap Bu Puspa suara bergetar.
Datuk Abu menghela napas pelan. Ia menatap dalam mata istrinya, mencoba membaca kegelisahan yang tampak begitu nyata di wajah perempuan yang telah menemaninya bertahun-tahun.
" Jangan langsung berpikiran buruk, Puspa. Mungkin hanya perasaanmu saja." ucap Datuk Abu lembut, menenangkan.
Tapi Bu Puspa menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa semakin sesak, seolah sesuatu yang buruk benar-benar sedang terjadi di luar sana.
" Aku takut, Bang... Aku takut sesuatu terjadi pada Sekar atau Pitaloka." ucap Bu Puspa suara lebih pelan, nyaris berbisik.
Mendengar itu, ekspresi Datuk Abu berubah serius. Ia merasakan firasat aneh dari cara istrinya berbicara. Ia tahu betul bahwa istrinya tidak pernah merasa gelisah tanpa alasan.