94

843 61 26
                                        

EXT. JALANAN DESA KUMAYAN - MALAM

Suasana malam yang sunyi di desa Kumayan terasa semakin dingin. Wiwit melangkah perlahan di samping Gumara, yang masih diam sejak meninggalkan rumah Datuk Abu. Langkah Gumara berat, pikirannya dipenuhi bayangan Pitaloka dan Baskara, pria yang sama sekali tidak ia kenali, tetapi tiba-tiba terlihat begitu dekat dengan wanita yang selama ini menghantui pikirannya. Wiwit melirik ke arah wajah Gumara yang muram. Dalam hatinya, ia tersenyum puas. Luka di wajah suaminya itu, luka cemburu yang membara, adalah celah yang selama ini ia cari. Ini kesempatan emas untuk terus menusukkan jarum-jarum kebencian di hati Gumara terhadap Pitaloka.

 Ini kesempatan emas untuk terus menusukkan jarum-jarum kebencian di hati Gumara terhadap Pitaloka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Bang... kamu gak apa-apa? Dari tadi diem aja. Aku ngerti kok, Bang... pasti sakit ya, liat Pitaloka sama pria itu." ucap Wiwit dengan suara lembut dan nada penuh perhatian.

Gumara tetap diam, tapi rahangnya mengeras.

" Aku juga perempuan, Bang. Aku tau, wanita gak akan sedekat itu sama pria kalau gak ada perasaan khusus. Lagian... dari cara Pitaloka sama pria itu saling pandang tadi, aku yakin mereka udah lama deket." ucap Wiwit mencoba menahan senyum kecilnya.

Langkah Gumara terhenti. Tangannya mengepal kuat, matanya menatap kosong ke jalanan di depannya.

 Tangannya mengepal kuat, matanya menatap kosong ke jalanan di depannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Siapa dia, Wit? Siapa laki-laki itu... kenapa Pitaloka melakukan ini padaku?" ucap Gumara berbisik, penuh kepedihan. 

" Pitaloka udah punya kehidupannya sendiri, Bang. Gak ada tempat lagi buat Abang di hati dia. Abang harus sadar, Abang sekarang udah punya aku... aku istri Abang." ucap Wiwit.

Kali ini Wiwit merapatkan tubuhnya ke sisi Gumara, tangan kecilnya meraih lengan suaminya, berusaha menciptakan kenyamanan palsu.

" Gak ada gunanya Abang mikirin dia terus. Abang tau kan, Pitaloka ninggalin Abang bertahun-tahun. Kalau dia bener-bener sayang sama Abang, gak mungkin dia secepat itu deket sama pria lain." ucap Wiwit suara makin pelan, penuh racun tersembunyi.

Gumara menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Ada benturan emosi di sana, antara kenangan manis tentang Pitaloka dan bayangan menyakitkan yang baru saja ia lihat.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang