17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Mentari pagi mulai menembus celah tirai jendela, memandikan ruang tamu rumah dinas itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Aroma seduhan teh yang baru saja dibuat Pitaloka menguar lembut. Gumara duduk di sofa, sementara Pitaloka datang membawa dua cangkir teh hangat, lalu menyerahkan satu kepadanya sebelum ikut duduk di sisi lain. Wajah keduanya masih terlihat lelah. Malam tadi mereka nyaris tidak tidur karena gangguan yang kembali dialami Key.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Sudah kesekian kalinya Sekar mimpi buruk seperti ini. Aku tidak yakin ini hanya mimpi biasa." ucap Gumara menatap ke arah jendela.
" Sekar tidak mungkin mengada-ada, apalagi saat ia sampai harus memanggil kita berdua. Aku bisa merasakannya... ada yang memanggil-manggilnya dari alam lain." ucap Pitaloka tersenyum kecut, menatap cangkir di tangannya.
" Aku mulai curiga, mungkin ini ada kaitannya dengan masa lalu kita... dengan semua yang pernah terjadi di Kumayan, terutama sejak kejadian penculikanmu dulu, Pita." ucap Gumara mengangguk pelan, menyesap tehnya. Ia tampak berpikir keras.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kamu pikir... roh dari masa lalu itu masih bergentayangan? Atau... ada seseorang yang sedang mencoba mengganggu Sekar karena sebenarnya mereka ingin berhadapan dengan kita berdua?" ucap Pitaloka menatap suaminya dengan ragu.
" Bisa jadi begitu. Sekar adalah keturunan dua Inyek harimau putih. Banyak siluman yang ingin mengincarnya." ucap Gumara.
" Aku harus berbicara dengan Ayah... atau Datuk Tunggal. Mungkin mereka bisa membantu menjelaskan mengenai sosok yang mengikuti anak kita. Aku yakin mereka tahu lebih banyak soal leluhur kita." ucap Pitaloka menghela napas panjang.
" Dan aku akan coba mencari tahu dari catatan lama yang masih aku simpan. Dulu sebelum pindah ke Jakarta, aku pernah menyimpan beberapa kitab inyek tentang sejarah kampung dan keluarga kita. Siapa tahu ada petunjuk." ucap Gumara kepalanya mengangguk mantap.
" Kita tidak boleh tinggal diam, Pa Mara. Kita harus lindungi anak kita, apapun yang terjadi." ucap Pitaloka menatap suaminya dengan haru.
" Selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan apa pun menyentuh putri kita." ucap Gumara dengan suara mantap.