97

980 64 16
                                        

EXT. HUTAN KUMAYAN - SIANG

Langkah kaki Key bergema pelan di antara suara dedaunan kering yang terinjak. Di kiri dan kanannya, sosok kedua orang tuanya, Gumara dan Pitaloka, melangkah dalam diam. Suasana begitu canggung hingga hembusan angin pun seolah enggan menyapa. Key berada tepat di tengah posisi yang tidak pernah ia harapkan. Antara ayah yang penuh amarah dingin dan ibu yang menyimpan luka tak kasat mata. Key melirik sekilas ke arah wajah sang ibu, Pitaloka, yang meski berusaha tegar, tapi sorot matanya menyiratkan kelelahan hati yang mendalam. Sementara di sisi satunya, wajah Gumara seperti ukiran batu keras, tegas, dan sulit dibaca. Langkah mereka perlahan menyusuri jalur sempit di tengah hutan Kumayan. Ranting-ranting kecil sesekali menyentuh bahu mereka, namun tak ada satu pun dari mereka yang berusaha menyingkirkan. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.

Bagi Key, ini lebih dari sekadar perjalanan menuju sesi latihan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagi Key, ini lebih dari sekadar perjalanan menuju sesi latihan. Ini adalah perjalanan emosional yang penuh ketegangan. Ia tahu betul betapa renggangnya hubungan kedua orang tuanya. Pertengkaran kecil yang terus membesar, saling menyalahkan, hingga akhirnya berujung pada jarak yang semakin melebar. Key berharap, di bawah naungan hutan ini, di tengah akar dan pepohonan tua yang menjadi saksi sejarah leluhurnya, ada keajaiban yang bisa menyatukan hati kedua orang tuanya kembali. Namun, harapan itu hanya sebatas harapan. Untuk mengucapkannya pun Key tak punya keberanian. Ada dinding tebal yang membentang di antara mereka bertiga. Dinding yang dibangun dari kesalahpahaman, rasa sakit, dan kecemburuan yang belum terselesaikan. Angin siang berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang mengering. Key menggenggam erat kedua tangannya di sisi tubuhnya, menahan keinginan untuk sekadar menggandeng tangan ibunya atau memeluk lengan ayahnya. Ia rindu masa-masa kecil saat bersama sang Ayah. Tapi kenyataannya, kini Key justru merasa seperti bayangan di antara dua manusia yang pernah saling mencintai, namun kini dipisahkan oleh rasa gengsi dan luka lama. Mata Key melirik ke kiri, ke arah sosok ibunya yang wajahnya dipenuhi ketegangan. Kemudian ia melirik ke kanan, ke arah punggung tegap ayahnya yang dari tadi hanya berjalan tanpa sepatah kata pun. Suasana di antara mereka benar-benar beku, seolah hutan Kumayan yang luas ini pun ikut membisu menyaksikan hubungan kedua orang tuanya yang dingin dan kaku.

" Sampai kapan begini terus? Sampai kapan ayah dan ibu saling diam, saling membiarkan jarak di antara kita semakin lebar? Aku tahu kalian sama-sama keras, sama-sama menyimpan luka, tapi... aku juga anak kalian. Apa aku nggak punya hak sedikit pun buat lihat kalian bahagia, bareng-bareng?" ucap Key dalam hatinya.

Key menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan sesak di dadanya. Langkahnya sempat terhenti sejenak, tapi kemudian ia kembali mengikuti langkah kedua orang tuanya. Kakinya menyusuri tanah yang dipenuhi akar-akar besar, tapi pikirannya berkelana jauh, membayangkan hari-hari di mana ia bisa melihat ayah dan ibunya tersenyum bersama, samar-samar kenangan itu mulai pudar. Setiap kali matanya menangkap punggung ayahnya, Key merasakan sosok yang dulu ia banggakan kini terasa begitu jauh. Ayah yang dulu penuh kasih, yang menggendongnya di bahu saat kecil, kini berubah menjadi pria yang begitu dingin, seakan tak lagi melihatnya sebagai putri kecilnya. Sedangkan ibunya, meski selalu bersikap lembut, tapi ia tahu di balik kelembutan itu ada dinding tebal yang memisahkan hati ibunya dari ayahnya yakni pernikahan sang ayah dengan Wiwit, Ibu tiri Key saat ini.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang