17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Datuk Lebai Karat dan istrinya, Bu Ratih, tampak tergesa-gesa menelusuri jalanan sempit yang dipenuhi bebatuan. Rembulan menyembul malu-malu di antara rimbunan awan, hanya menyisakan sedikit cahaya untuk menerangi langkah mereka. Usia yang sudah senja tidak mematahkan semangat keduanya untuk segera menjumpai cucu kesayangan mereka, Alina.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Apa menurut Abang, Alina akan senang bertemu kita, Bang?" ucap Bu Ratih memecah kesunyian. Raut wajahnya mencerminkan kecemasan yang tak biasa.
" Tentu saja, Ratih. Dia pasti rindu dengan kita, lagi pula, sudah lama kita tak melihat dia sejak anak kita, Karina, dan menantu kita, Limbubu, memutuskan menyekolahkannya jauh dari Bengkulu." ucap Datuk Lebai Karat, menggenggam erat tangan istrinya.
Mereka melangkah dengan hati-hati, melewati hutan yang mulai diselimuti kabut tipis. Pikiran mereka melayang pada Alina, gadis remaja yang kini telah tumbuh dewasa. Sejak kecil, Alina memang berbeda. Keberadaannya dijaga erat oleh Ki Maung, sosok yang oleh Alina sering disebut "Kakek". Ki Maung, orang kepercayaan Limbubu dan Karina, selalu memastikan keselamatan Alina selama mereka berjauhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku bersyukur Ki Maung selalu ada untuk Alina. Tapi aku juga ingin dia tahu bahwa kakek dan neneknya pun tak pernah melupakan dia," ucap Datuk Lebai Karat lagi, suaranya bergetar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.