41

1.1K 60 15
                                        

INT. KAMAR 201 - HOSTEL KAYU LIMA - MALAM

Pitaloka membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar yang masih redup oleh cahaya lampu kecil di sudut ruangan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan dengan suasana remang-remang. Suara jangkrik mulai terdengar, bercampur dengan desiran angin malam yang samar. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajahnya dengan lembut dan meregangkan tubuh yang terasa kaku setelah perjalanan panjang. Matanya kemudian tertuju pada jam dinding yang menggantung di sisi kamar. Jarum pendek dan panjang menunjuk angka 7. Ia menarik napas dalam-dalam, perlahan bangkit berdiri dan berjalan mendekati jendela yang sedikit tertutup tirai.

Dengan tangan yang masih terasa berat, ia menyibakkan tirai itu dan membuka jendela. Udara segar khas desa malam hari langsung menyentuh wajahnya, membawa aroma embun dan dedaunan basah. Pitaloka menghirup udara dalam-dalam, merasakan kesejukan yang menenangkan hatinya. Ia menatap keluar, melihat pemandangan halaman hostel yang sederhana dengan beberapa pohon besar yang menjulang, daun-daunnya bergoyang pelan ditiup angin.

" Betapa damainya suasana ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Betapa damainya suasana ini... Sudah lama aku tidak merasakan ketenangan seperti ini." ucap Pitaloka berbisik pada dirinya sendiri.

Ia memejamkan mata sejenak, menikmati momen itu. Udara yang masuk melalui jendela seolah membawa kenangan masa lalu, membangkitkan berbagai emosi yang bercampur antara rindu, haru, dan sedikit kekhawatiran. Pitaloka membuka matanya kembali, kali ini dengan pandangan yang lebih lembut. Ia menatap ke kejauhan, berpikir tentang anaknya, Sekar Kemuning, yang mungkin sedang menjalani malam yang sama di tempat yang tidak jauh darinya. Cahaya bulan menerangi wajahnya, menampilkan ekspresi yang penuh rasa cinta dan kekhawatiran. Di balik heningnya malam, pikirannya bergolak.

" Sekar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Sekar... Ibu sudah melangkah sejauh ini, hanya untuk memastikan kamu aman. Ibu tidak peduli apapun yang terjadi, Ibu akan tetap melindungi kamu, Nak. Ibu tidak akan membiarkan siapapun melukai atau mengganggu kehidupan kamu." ucap Pitaloka berbicara dalam hati, tatapannya tidak beralih dari bulan.

Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya, meski matanya sedikit berkaca-kaca. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Pitaloka melangkah ke tempat tidurnya, mengambil sebuah bingkai foto kecil dari tasnya, foto pemberian dari Sekar saat pertama kalinya mereka berdua bertemu di malam itu. Foto yang ia temukan di kotak milik sang Ayah, Gumara. Foto itu menunjukkan dirinya di samping Gumara dan bersama Sekar Kemuning saat masih bayi, dengan senyum bahagia yang dulu terasa sederhana.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang