17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Sinar matahari pagi menembus jendela kecil kamar hostel. Pitaloka terlihat sibuk di meja kecil, menata makanan di atas piring. Udara pagi yang sejuk membuat suasana terasa damai, meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran tentang putrinya. Key terbangun perlahan, matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari keberadaan ibunya. Ia melihat Pitaloka dengan penuh perhatian menyiapkan sarapan.
Pitaloka menoleh, tersenyum lembut pada putrinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Selamat pagi anak Ibu. Ayo bangun, Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kamu." ucap Pitaloka ceria.
Key bangkit dari tempat tidur sambil tersenyum kecil, masih terlihat mengantuk.
" Ibu bangun pagi-pagi sekali? Kok nggak bilang mau keluar beli makanan?" ucap Key sambil menguap.
Pitaloka hanya tersenyum sambil menarik kursi untuk Key duduk.
" Ibu nggak mau mengganggu tidur kamu. Lagi pula, warungnya dekat, hanya beberapa langkah dari sini." ucap Pitaloka tenang.
Key bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri meja kecil itu. Ia melihat nasi goreng hangat, lengkap dengan telur mata sapi dan segelas teh manis. Aroma masakannya menggugah selera.
" Wah, Ibu tahu aja Key lagi lapar. Terima kasih ya, Bu." ucap Key tersenyum lebar.
Pitaloka tertawa kecil, menepuk pundak Key. Key duduk di pinggir ranjang, memandang nasi goreng hangat di atas meja kecil. Asapnya masih mengepul, menyebarkan aroma yang menggugah selera. Sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan segelas teh manis tampak mengundang.
" Sebelum makan, mandi dulu, Nak. Kamu masih punya waktu sebelum berangkat." ucap Pitaloka tersenyum lembut.
Key menghela napas ringan, sedikit malas, tapi ia tahu ibunya benar. Ia berdiri perlahan dari tempat tidurnya, menggulung lengan bajunya.
" Iya, Ibu. Tapi pastikan Key masih dapat porsi ini, ya? Jangan sampai ada yang hilang!" ucap Key dengan nada bercanda.
Pitaloka tertawa kecil mendengar celoteh putrinya.
" Jangan khawatir, semuanya untuk kamu. Cepat sana, pergi mandi biar segar." ucap Pitaloka menatap penuh kasih.
Key melangkah menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar. Suara air yang mulai mengalir terdengar, sementara Pitaloka duduk di tepi ranjang, sesekali menatap nasi goreng itu sambil tersenyum kecil, memikirkan putrinya.
...
" Habiskan sarapannya, kamu butuh tenaga, Nak. Desa tempat KKN kamu itu tidak mudah dijalani. Dan Ibu ingin memastikan kamu cukup makan sebelum berangkat." ucap Pitaloka lembut.
Key duduk di kursi, mengambil sendok dan mulai menikmati sarapan itu.
" Ini enak sekali, Bu. Terima kasih sudah repot-repot Ibu belikan Key sarapan." ucap Key sambil mengunyah.