17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Wiwit berjalan perlahan menuju rumah Datuk Abu. Wajahnya tampak gugup, tapi ia berusaha menyembunyikannya. Dari kejauhan, Gumara berdiri menunggu di depan rumah. Saat melihat Wiwit, ia segera menghampirinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Wiwit, darimana saja kamu? Aku sudah mencari kamu ke mana-mana. Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih, kenapa malah keluar sendirian?" tanya Gumara dengan nada cemas.
Wiwit menundukkan pandangannya, berusaha menyusun alasan. Ia tahu ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia baru saja bertemu dengan Pitaloka. Ia mencoba menjaga ketenangannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku hanya berjalan-jalan sebentar, Bang. Aku butuh udara segar... rasanya terlalu jenuh di dalam rumah." ucap Wiwit tersenyum lemah.
Gumara memegang kedua bahunya dengan lembut, menatap wajah Wiwit dengan penuh perhatian.
" Kalau butuh udara segar, kenapa tidak mengajakku? Aku bisa menemani kamu, Wiwit. Kamu tahu aku khawatir sekali dengan kondisi kesehatan kamu." ucap Gumara lembut tapi tegas.
Wiwit tersenyum kecil, meskipun matanya sedikit gelisah. Ia mengelus tangan Gumara, berusaha meyakinkannya.
" Aku tidak ingin merepotkan Abang. Lagipula, aku baik-baik saja. Hanya ingin menyendiri sejenak." ucap Wiwit dengan nada lembut.
Gumara masih memandangnya penuh keraguan, tapi ia memutuskan untuk tidak memaksa Wiwit berbicara lebih jauh.
" Baiklah, tapi lain kali, jangan pergi tanpa memberitahu. Kamu tahu aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Wiwit." ucap Gumara menghela napas.
" Aku mengerti, Bang. Maaf sudah membuat Abang khawatir." ucap Wiwit tersenyum tipis.
Gumara mengangguk dan menggenggam tangan Wiwit, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
" Masuklah, kamu masih butuh istirahat. Datuk Abu pasti juga akan khawatir kalau tahu kamu berkeliaran sendirian." ucap Gumara dengan nada lembut.
Wiwit berjalan pelan di halaman rumah, pikirannya penuh dengan kegelisahan yang semakin sulit ia kendalikan. Wajahnya tampak murung, tapi di dalam hatinya ada badai yang bergemuruh.