37

888 53 15
                                        

KEESOKAN HARINYA

EXT. TERMINAL BUS KAYU LIMA, BENGKULU - PAGI

Bus melambat, berhenti dengan bunyi rem yang mencicit halus. Pitaloka dan Farah melangkah keluar, koper bawaan mereka tergenggam erat. Suara hiruk-pikuk terminal menyambut mereka, teriakan calo bus, deru mesin, dan langkah kaki orang-orang yang sibuk dengan tujuannya masing-masing.

Pitaloka berhenti sejenak, menatap tanah yang kini dipijaknya. Bengkulu. Tanah kelahirannya. Tapi apa yang dulu ia kenal kini terasa seperti dunia yang sama sekali baru. Bangunan-bangunan di terminal telah berubah, lebih modern dibandingkan 17 tahun lalu. Namun, aroma khas tanah dan udara Bengkulu tetap sama, membawa gelombang memori yang tak terhindarkan. Dalam pikirannya, malam yang mengubah segalanya kembali terputar. Malam penculikan itu. Malam ketika hidupnya berubah untuk selamanya. Ingatan itu menyeruak, seperti potongan film yang tak diinginkannya.

Farah, yang sudah lebih dulu berjalan, menoleh dan melihat Pitaloka terdiam dengan raut wajah yang sarat emosi. Ia berjalan kembali mendekat, menyentuh lengan sahabatnya dengan lembut.

" Pitaloka... apa kamu baik-baik saja?" ucap Farah dengan suara pelan.

Pitaloka tersentak keluar dari lamunannya. Ia menoleh pada Farah, mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat.

" Bagaimana rasanya kembali setelah sekian lama, Pitaloka?" ucap Farah sambil menyentuh bahu Pitaloka.

Pitaloka menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca namun bibirnya melengkungkan senyum kecil.

Pitaloka menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca namun bibirnya melengkungkan senyum kecil

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Aku hampir tidak mengenali kota ini, Farah. Semuanya telah berubah... Tapi entah kenapa, aku merasa seperti baru pulang ke rumahku yang sesungguhnya." ucap Pitaloka lirih.

Suara hiruk-pikuk terminal tidak mengalihkan perhatian mereka. Farah tersenyum lebar, berusaha menyemangati Pitaloka.

" Yah, kota ini mungkin berubah, tapi aku yakin hatimu tetap mengenali setiap sudutnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Yah, kota ini mungkin berubah, tapi aku yakin hatimu tetap mengenali setiap sudutnya. Dan sekarang, waktunya kita membuat kenangan baru di sini." ucap Farah dengan nada ceria.

Pitaloka mengangguk perlahan, matanya kembali menyapu terminal. Ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, kendaraan yang berderu, dan suasana yang begitu hidup.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang