17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Farah sibuk di dapur sejak fajar menyingsing. Aroma masakan hangat menguar memenuhi seluruh rumah. Di meja makan, ia telah menata hidangan dengan rapi, nasi hangat, lauk-pauk kesukaan suaminya, serta secangkir kopi yang masih mengepul. Humbalang melangkah masuk ke ruang makan, masih mengenakan pakaian tidurnya. Ia mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk, lalu menatap istrinya yang berdiri di depan meja dengan senyum lembut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Bang, Ayo sarapan dulu. Setelah itu, aku ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat." ucap Farah dengan suara lembut namun tegas.
Humbalang mengangkat alisnya, merasa sedikit heran dengan ucapan istrinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Ke mana, Farah? Kenapa tiba-tiba?" ucap Humbalang sambil duduk di kursi, mengambil secangkir kopi.
Farah tersenyum kecil, lalu duduk di samping suaminya.
" Nanti kamu juga akan tahu, Bang. Yang jelas, ini penting." ucap Farah menatap suaminya penuh arti.
Humbalang menatap istrinya dengan penuh tanya, namun ia memilih untuk tidak membantah. Ia mulai menikmati sarapannya, sementara Farah duduk di sampingnya, menunggu dengan sabar. Ada sesuatu yang sedang direncanakan Farah, sesuatu yang tampaknya akan mengubah banyak hal.
.
.
EXT. JALANAN DESA KUMAYAN – PAGI
Humbalang dan Farah berjalan berdampingan di jalanan desa yang masih diselimuti embun pagi. Udara segar berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih berembun. Burung-burung berkicau merdu dari atas pepohonan, menambah suasana pagi yang damai. Humbalang melirik ke arah istrinya yang tampak begitu bersemangat. Sejak tadi Farah menggenggam tangannya erat, seolah tidak ingin ia berhenti di tengah jalan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.