58

848 57 17
                                        

INT. LORONG HOSTEL KAYU LIMA - MALAM

Key berjalan perlahan menyusuri lorong yang sepi, hanya suara langkah kakinya yang terdengar samar. Ia berhenti di depan sebuah pintu kamar hostel. Namun, itu bukan kamarnya. Key berdiri di depan pintu kamar yang sudah sangat dikenalnya, kamar ibunya, Pitaloka. Pandangannya tertuju pada pintu yang tertutup rapat, tangannya gemetar di sisinya, seolah ingin mengetuk namun tertahan oleh keraguan. Key terdiam, menatap pintu itu dalam keheningan. Pikirannya dipenuhi bayangan masa lalu ibunya, tentang penderitaan dan pengorbanan yang harus ditanggung oleh Pitaloka selama ini. Wajah ibunya, senyumnya, dan semua perjuangan yang disembunyikannya kembali melintas dalam benaknya. Air mata tiba-tiba mengalir tanpa bisa ia tahan. Key mengangkat tangannya, menyeka pipinya yang basah, tapi air mata terus saja jatuh, mengalir seperti aliran rasa sakit yang selama ini terpendam di hatinya.

" Ibu... bagaimana Ibu bisa melewati semua ini sendirian?" ucap Key berbisik dengan suara gemetar.

Key merapatkan kedua tangannya di dadanya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Pintu itu begitu dekat, namun terasa begitu jauh baginya. Tangannya terulur, menyentuh permukaan pintu dengan lembut, seolah berharap bisa merasakan kehadiran ibunya di balik sana. Hatinya diliputi rasa rindu yang begitu mendalam, rasa bersalah karena baru sekarang ia menyadari betapa besar perjuangan ibunya.

" Ibu, Key akan selalu ada untuk Ibu... sampai kapanpun. Key tidak akan membiarkan Ibu memikul kesedihan ini sendirian lagi. Key akan melindungi Ibu, apapun yang terjadi." ucap Key berbisik pelan, penuh tekad.

Air mata kembali mengalir, tetapi kali ini ada kekuatan dalam tangisannya. Key menyeka pipinya dengan cepat, meneguhkan hatinya. Ia tahu bahwa ibunya telah berjuang sendirian terlalu lama, dan kini tiba saatnya ia menjadi penopang bagi ibunya. Key menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya, ia menyentuh gagang pintu itu sekali lagi, seperti memberikan isyarat janji dalam diam kepada ibunya.

" Ibu... Key sangat menyayangi Ibu." ucap Key berbisik pelan.

Key berdiri mematung, menatap pintu kamar ibunya dengan perasaan campur aduk. Hatinya berdebar kencang, seakan suara detaknya menggema di lorong yang sunyi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, sebelum perlahan mengangkat tangannya ke arah pintu.

" Kamu bisa melakukannya Key... Ini saatnya." ucap Key berbisik pada dirinya sendiri.

Dengan perlahan, jari-jarinya menyentuh pintu kayu yang dingin, ragu-ragu untuk mengetuk. Ia kembali menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki.

" Ibu..." ucap Key berbisik pelan.

Akhirnya, dengan tangan yang sedikit gemetar, Key mengetuk pintu itu tiga kali. Ketukan itu terdengar lembut, namun cukup untuk memecah keheningan malam. Key menunggu, menahan napas sejenak. Pandangannya tertuju ke gagang pintu, berharap pintu itu segera bergerak. Lorong yang sunyi terasa begitu panjang saat detik-detik berlalu. Suara samar langkah dari dalam kamar mulai terdengar, membuat jantung Key berdegup semakin kencang. Dan kemudian, gagang pintu itu perlahan mulai berputar...

...

INT. KAMAR 201 - HOSTEL KAYU LIMA - MALAM

Pitaloka duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam erat, memperlihatkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. Pandangannya tertuju ke jendela kamar hostel yang tertutup rapat, seakan-akan sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung tiba. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, namun pikirannya terus berputar.

" Sekar... kapan kamu pulang, Nak? Apa semuanya baik-baik saja di sana?" ucap Pitaloka berbicara pelan pada dirinya sendiri.

Ia meraih ponsel di atas meja kecil di samping ranjang, memeriksa layar yang tak menunjukkan pesan atau panggilan baru. Sebuah perasaan cemas menyeruak di dadanya, membuat malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Pitaloka berdiri perlahan, berjalan menuju jendela, dan membuka tirainya sedikit. Ia menatap keluar ke arah kegelapan malam, berharap putrinya, Sekar Kemuning, segera kembali dari kegiatan KKN di Desa Hutan Mati menuju hostel.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang