INT. DEPAN RUANG OPERASI - RS HARAPAN – SORE
Pitaloka terduduk di bangku panjang, tepat di luar ruang operasi. Tangannya terus ia remas, jemarinya saling bertaut, mencengkeram erat seolah berharap bisa menyalurkan doa dan harapan kepada putrinya yang sedang berjuang di dalam sana. Tatapan matanya kosong, wajahnya pucat, dan air matanya terus berjatuhan tanpa ia sadari. Ruangan di sekitarnya terasa begitu sunyi, hanya suara langkah-langkah perawat dan dokter yang sesekali berlalu-lalang. Hatinya diliputi kecemasan yang tak berujung. Operasi ini adalah penentu hidup dan mati putrinya, Sekar Kemuning.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara langkah cepat mendekat. Seorang pria dengan wajah penuh kecemasan berjalan dengan terburu-buru menuju arah Pitaloka. Dialah Baskara, suami dari dokter Giska. Begitu matanya menangkap sosok Pitaloka yang duduk sendiri dengan wajah penuh kegelisahan, ia mempercepat langkahnya.
" Pitaloka..." ucap Baskara suara dalam, penuh kepedulian.
Pitaloka tersentak pelan dari lamunannya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Baskara berdiri di hadapannya, nafas pria itu masih tersengal, mungkin karena bergegas ke rumah sakit begitu mendapat kabar dari istrinya. Pitaloka menatap Baskara dengan mata yang masih berair. Bibirnya sedikit bergetar, ingin berbicara, tapi tak ada kata-kata yang sanggup keluar. Ia hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan, menahan tangis yang semakin mendesak keluar. Melihat keadaan Pitaloka, hati Baskara terasa perih. Tanpa ragu, ia duduk di sampingnya, mencoba memberi ketenangan.
" Aku sudah dengar semuanya dari Giska. Aku langsung datang ke sini setelah mendapat kabar kalau Sekar mengalami kecelakaan." ucap Baskara lembut, menenangkan.
Pitaloka mengangguk kecil, namun tetap tidak bisa mengatakan apa pun. Napasnya pendek-pendek, seperti seseorang yang hampir kehabisan tenaga karena terlalu banyak menangis. Baskara memperhatikan wajah Pitaloka yang tampak begitu hancur. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa benar-benar menghilangkan rasa sakit seorang ibu yang anaknya sedang berjuang antara hidup dan mati. Tapi ia ingin memastikan bahwa Pitaloka tidak merasa sendirian.
" Kamu nggak sendiri, Pitaloka. Aku di sini. Apapun yang terjadi, aku dan Giska akan tetap di sini untuk kamu." ucap Baskara suara lirih, penuh ketulusan.
Mendengar kata-kata itu, Pitaloka akhirnya tak mampu lagi menahan tangisnya. Isakannya pecah, tubuhnya bergetar hebat. Baskara, tanpa ragu, meraih bahunya dengan lembut, memberikan kekuatan sebisanya.
Baskara masih duduk di samping Pitaloka, mencoba menenangkan wanita itu yang masih terlihat begitu lemah dan terpuruk. Suasana di sekitar mereka masih dipenuhi ketegangan, suara langkah para tenaga medis berlalu-lalang, serta suara monitor dari dalam ruang operasi yang samar terdengar. Baskara melirik sekilas ke arah pintu ruang operasi, lalu kembali menatap Pitaloka. Dengan suara yang lembut namun tegas, ia bertanya.
" Pitaloka... kamu sudah kasih kabar ke orang tua kamu di Kumayan?" tanya Baskara hati-hati.
Pitaloka mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, lalu mengangguk pelan.
" Sudah... mereka pasti sudah dalam perjalanan ke sini..." ucap Pitaloka suara lirih, masih terisak.
Baskara menghela napas lega, setidaknya Pitaloka tidak harus menghadapi ini sendirian. Ia menatap wajah wanita di sampingnya yang masih terlihat penuh kepedihan.
" Itu bagus... Mereka pasti ingin ada di sini bersama kamu." ucap Baskara lembut, menenangkan.
Pitaloka mengangguk lemah, tetapi hatinya tetap dipenuhi kecemasan. Entah mengapa, waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik yang berlalu hanya membuat dadanya semakin sesak.
" Aku takut, Bas... Aku takut kehilangan Sekar..." ucap Pitaloka lirih, hampir berbisik.
Mata Baskara melembut. Ia tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tidak pasti, tetapi ia juga tidak ingin membiarkan Pitaloka terus tenggelam dalam ketakutannya. Dengan penuh ketulusan, ia meremas lembut bahu Pitaloka.
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Hayran Kurgu17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
