90

1.3K 72 36
                                        

EXT. HALAMAN RUMAH DATUK ABU - PAGI

Gumara masih berdiri di tempatnya. Matanya kosong, menatap tanah berdebu di bawah kakinya. Nafasnya berat, pikirannya kalut, hatinya seperti terkoyak oleh sikap dingin Pitaloka. Semua kenangan tentang wanita itu menyeruak kembali, cinta, kehilangan, dan harapan yang kini terasa begitu jauh dari genggamannya. Langit pagi mulai terang, tetapi bagi Gumara, segalanya terasa gelap. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekatinya.

 Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekatinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

" Bang Mara... Kamu tidak apa-apa?" ucap Wiwit lembut, penuh perhatian palsu. 

Gumara tak langsung menoleh. Ia masih tenggelam dalam pikirannya, tetapi Wiwit tak menyerah. Ia melangkah lebih dekat, suaranya semakin lembut, penuh dengan nada prihatin.

" Kasihan sekali... Pitaloka terlihat sangat kecewa pada Abang." ucap Wiwit menghela napas, berpura-pura sedih. 

" Aku tidak menyangka, setelah sekian lama menunggu, dia kembali hanya untuk bersikap dingin pada Abang." ucap Wiwit berusaha menghibur, tatapan penuh belas kasih.

Gumara akhirnya menoleh, wajahnya masih kusut, tetapi matanya tajam menatap Wiwit.

" Apa maksud kamu, Wiwit?" ucap Gumara suara rendah, hampir berbisik.

Wiwit pura-pura terkejut, lalu menggeleng pelan.

" Aku hanya tidak ingin melihat kamu terluka, Bang... Aku tahu betapa kamu mencintai Pitaloka. Tapi dia..." ucap Wiwit menghela napas panjang.

" Dia sudah bukan Pitaloka yang dulu lagi. Dia berubah..." lanjut Wiwit menunduk, lalu mendesah pelan.

Gumara mengepalkan tangannya. Ia tahu Pitaloka berubah, tetapi bukan karena dia ingin. Ia berubah karena keadaan memaksanya. Wiwit tersenyum tipis, seolah sedang berusaha menyelamatkan Gumara dari kehancuran, padahal di dalam hatinya, ia menikmati setiap detik kehancuran yang dialami pria itu.

" Kadang... takdir memang tidak membawa kita kembali pada orang yang kita cintai. Mungkin ini pertanda bahwa kamu harus berhenti berharap pada sesuatu yang sudah lama hilang..." ucap Wiwit mengulurkan tangan ke bahu Gumara, dengan suara lembut, menatapnya penuh arti.

Gumara menatap Wiwit, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Kata-kata Wiwit itu menggoreskan keraguan dalam hatinya, benarkah Pitaloka sudah tidak ingin bersamanya? Benarkah ia hanya sedang menggenggam sesuatu yang seharusnya ia lepaskan? Gumara menarik napas dalam, mencoba mengendalikan gejolak di dalam hatinya. Pitaloka telah kembali, tetapi bukan sebagai wanita yang dulu selalu menatapnya dengan penuh kasih. Ia berubah, dingin, dan menjaga jarak. Di hadapannya, Wiwit masih berdiri dengan tatapan lembut, seakan tak ada niat buruk dalam hatinya. Gumara, yang masih belum mengetahui siapa Wiwit sebenarnya, menganggap istrinya itu sebagai wanita yang baik, seseorang yang selalu ada di sisinya saat dunia terasa runtuh.

 Gumara, yang masih belum mengetahui siapa Wiwit sebenarnya, menganggap istrinya itu sebagai wanita yang baik, seseorang yang selalu ada di sisinya saat dunia terasa runtuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang