17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Kabut tipis masih menggantung di antara rimbunan pohon yang menjulang tinggi di hutan Kumayan. Cahaya matahari pagi menembus sela-sela dedaunan, menciptakan bayang-bayang bergerak yang menari-nari di atas tanah lembab yang dipenuhi dedaunan kering. Key berjalan sendirian di jalan setapak yang menembus hutan menuju Desa Hutan Mati, lokasi kegiatan KKN-nya bersama teman-teman. Di punggungnya tergantung tas ransel kecil, dan di tangannya tergenggam sebuah botol air yang sudah setengah kosong. Suara langkah kakinya berpadu dengan suara dedaunan yang terinjak, menciptakan irama alami dalam kesunyian pagi itu. Namun, setelah beberapa saat berjalan, Key menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuh, menoleh ke belakang dengan alis yang berkerut. Wajahnya mulai menunjukkan kegelisahan.
" Siapa...?" ucap Key berbisik.
Ia tidak melihat apa pun hanya pohon-pohon tua, semak belukar, dan kabut yang perlahan bergerak ditiup angin. Tapi perasaannya berkata lain. Ada sesuatu atau seseorang. Langkah kakinya kembali bergerak, namun kini lebih cepat. Nafasnya mulai terdengar, bukan karena lelah, melainkan karena jantungnya yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba, sebuah suara ranting patah terdengar dari balik semak-semak di sisi kanan jalan setapak. Key terlonjak. Ia menoleh spontan ke arah sumber suara. Tidak ada siapa pun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Namun baru saja ia hendak melangkah kembali, suara itu terdengar lagi, kini dari sisi kiri. Seperti ada langkah kaki mengikuti, menyamakan ritme dengan langkah Key. Tapi ketika ia berhenti, suara itu pun ikut berhenti. Key mulai terisak pelan, tubuhnya gemetar. Ia memeluk erat ranselnya, mencoba menenangkan diri.
" Aku nggak boleh takut... Aku nggak boleh takut..." ucap Key berbisik, mengingat pesan ibunya.
Ia mengerling ke kanan dan ke kiri. Dedaunan bergoyang pelan, dan kabut mulai turun lebih tebal, membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.
" Kalau kau memang ada... tunjukkan dirimu!" ucap Key mulai berteriak.
Tidak ada jawaban. Hanya hembusan angin. Dengan sisa keberaniannya, Key melanjutkan langkahnya. Kini lebih cepat. Ia berlari kecil, mencoba keluar dari jalur hutan sebelum hari menjadi lebih gelap oleh kabut. Namun di belakangnya, di antara kabut, samar-samar terlihat bayangan sosok wanita dengan jubah hitamnya. Wajahnya tak tampak, namun kehadirannya terasa... menekan... menghantui.
...
Dari balik rerimbunan pohon yang tumbuh lebat di Hutan Kumayan, seorang wanita berjubah hitam berdiri membatu. Jubahnya berkibar perlahan, tersentuh angin yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Wajahnya tak terlihat, tersembunyi di balik bayang-bayang rimbun dedaunan dan kerudung gelap yang menutupi kepala. Namun sorot matanya tajam, penuh dendam mengintai seorang remaja yang tengah berjalan seorang diri di jalur sempit yang membelah hutan. Langkah kaki sang remaja terdengar lirih di antara dedaunan kering, tanpa disadari bahwa dirinya sedang diawasi oleh mata yang menyimpan bara masa lalu. Sosok wanita itu menatapnya intens, seakan-akan setiap helaan napas sang remaja adalah cambuk yang mengoyak kembali luka lama yang belum sembuh. Dialah yang selama ini dicari. Dialah pewaris darah dari orang-orang yang pernah merenggut segalanya darinya kehormatan, kekuasaan, dan impiannya untuk menjadi penguasa mutlak di bumi Andalas.