17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Key melangkah seorang diri di jalan setapak yang membentang di antara pepohonan. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran. Cahaya bulan yang redup menerangi jalannya, namun di dalam hatinya, ada kegelisahan yang terus menggema. Ia baru saja berpisah dengan Alina, Alam, dan Shakti yang kembali ke Desa Tiga Panggung. Namun, pikirannya tak bisa lepas dari ibunya, Pitaloka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Kenapa perasaan aku tidak enak?" ucap Key berbisik pada dirinya sendiri.
Langkahnya semakin cepat. Ada sesuatu yang mengusik hatinya, perasaan tidak nyaman yang semakin kuat seiring dengan setiap langkah yang ia ambil. Bayangan wajah ibunya terus muncul di benaknya. Key terus melangkah dengan cepat, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan, tetapi karena kecemasan yang menggelayuti pikirannya.
" Ibu pasti baik-baik saja... Aku hanya terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin sesuatu terjadi padanya hanya dalam semalam." ucap Key berbisik pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan diri.
Namun, suara hatinya berkata lain. Angin malam berhembus lebih dingin dari biasanya. Bayangan pepohonan yang menjulang tinggi di sepanjang jalan setapak terlihat lebih menyeramkan dalam remang cahaya bulan. Key menggigit bibirnya. Ia berharap semua ini hanya perasaan buruk yang datang sesaat. Bahwa saat ia tiba di hostel Kayu Lima, ia akan menemukan ibunya dalam keadaan baik-baik saja, seperti biasa. Namun, mengapa hatinya merasa seolah sesuatu telah terjadi? Dengan langkah yang semakin dipercepat, Key terus berjalan, berharap perasaannya salah. Hatinya semakin berdebar. Tanpa sadar, Key mulai berlari. Ia harus segera tiba di hostel Kayu Lima.
...
INT. LORONG HOSTEL KAYU LIMA - MALAM
Key melangkah hati-hati menyusuri lorong panjang hostel. Cahaya lampu redup memantulkan bayangan samar di dinding. Nafasnya tertahan, ia tidak ingin seorang pun melihatnya berada di sini. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada teman-temannya yang mengikuti. Setelah yakin keadaan aman, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar yang ia tuju, kamar ibunya.
Tiba di depan pintu, Key mengangkat tangannya, hendak mengetuk, namun ragu sejenak. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Apa ibunya baik-baik saja? Dengan napas pelan, akhirnya ia mengetuk pintu dengan lembut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.