17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Malam telah larut. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang menemani kesunyian. Cahaya bulan jatuh di teras rumah Datuk Abu, membentuk bayangan panjang sosok lelaki tua yang tengah duduk termenung di kursi kayu. Wajahnya terlihat lelah, matanya menerawang kosong ke arah halaman rumah. Tangannya saling bertaut di pangkuan, menggenggam erat seakan menahan sesuatu yang hendak pecah dari dalam dadanya. Perasaan bersalah yang selama ini ia pendam semakin menyesakkan dada. Ia menghela napas panjang, namun tidak ada udara yang cukup untuk meredakan gejolak di hatinya. Pikirannya terus berputar, kembali ke masa lalu, ke saat-saat ketika ia merasa telah mengambil keputusan yang benar. Namun kini, ia sadar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Pitaloka... Maafkan Ayah..." ucap Datuk Abu berbisik lirih pada dirinya sendiri.
Suara itu terdengar parau, nyaris tenggelam dalam gemerisik dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Matanya yang mulai berkabut menatap kosong ke depan. Ia ingat dengan jelas saat ia memutuskan menikahkan Gumara dengan Wiwit. Saat itu, ia benar-benar yakin bahwa Pitaloka tidak akan pernah kembali. Ia berpikir ia telah kehilangan putrinya selamanya. Jadi, ketika Wiwit datang membawa kepastian dan keyakinan untuk melindungi cucunya, Sekar Kemuning, ia merasa telah melakukan yang terbaik untuk Gumara, menantunya. Ia ingin Gumara memiliki kehidupan baru, keluarga baru, tanpa terus terperangkap dalam kesedihan atas kehilangan Pitaloka. Namun siapa sangka, takdir berkata lain. Putrinya kembali. Tapi bukan sebagai wanita yang utuh, melainkan sebagai seseorang yang telah hancur berkeping-keping. Air mata yang ia tahan kini jatuh juga.
" Seandainya waktu bisa diulang... Seandainya aku tidak gegabah..." ucap Datuk Abu irih, penuh sesal.
Tangannya bergetar, mencoba mengusap wajahnya yang mulai menua. Seiring bertambahnya usia, ia baru menyadari bahwa tak semua keputusan seorang ayah selalu benar. Tiba-tiba, suara langkah lembut terdengar dari dalam rumah. Datuk Abu tidak menoleh, tetapi ia tahu siapa yang datang. Bu Puspa berdiri di ambang pintu, menatap suaminya dengan sorot mata penuh pengertian. Tanpa berkata-kata, ia ikut duduk di samping Datuk Abu. Mereka terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya suara angin yang menemani. Dalam diam, ingatannya kembali ke masa lalu, ke saat-saat ketika ia pertama kali membawa Wiwit ke hadapan Gumara. Saat itu, ia begitu yakin bahwa keputusannya adalah yang terbaik. Sekar, cucunya, butuh seorang ibu. Dan Gumara, menantunya, tak bisa selamanya hidup dalam kesedihan menunggu seseorang yang telah dianggap pergi untuk selamanya.
" Aku yang membawa Wiwit ke dalam hidup Gumara... Aku yang membuka jalan bagi semua kehancuran ini, Puspa..." ucap Datuk Abu berbisik pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Matanya kembali berkaca-kaca, suaranya bergetar penuh sesal. Bu Puspa yang duduk di sampingnya tetap diam, membiarkan suaminya meluapkan apa yang selama ini ia pendam.
" Aku kira dengan memperkenalkan Gumara pada Wiwit, aku telah menyelamatkan cucuku dari kehilangan sosok ibu... Aku kira dengan pernikahan itu, aku memberikan keluarga yang lebih baik untuk Sekar... Tapi nyatanya... yang kulakukan hanya menghancurkan hati putriku sendiri." ucap Datuk Abu melanjutkan, suara penuh penyesalan.