17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Malam perlahan merambat semakin larut. Namun, kehangatan justru terasa begitu nyata di ruang tamu rumah Datuk Abu. Baskara duduk di salah satu kursi kayu panjang, ditemani Pitaloka dan Key yang duduk di sisinya. Datuk Abu dan Bu Puspa duduk berhadapan dengan mereka. Ekspresi Datuk Abu dan Bu Puspa terlihat jauh lebih tenang setelah mendengarkan cerita panjang Baskara tentang perjalanan hidup Pitaloka selama tujuh belas tahun terakhir.
" Besok pagi, aku berencana mengajak kamu dan Key bertemu dengan seseorang, Pita." ucap Baskara tersenyum kecil, menatap Pitaloka dengan sorot mata lembut.
" Bertemu siapa, Bas?" ucap Pitaloka menoleh, matanya menyiratkan rasa penasaran.
" Giska, istriku." ucap Baskara.
Sesaat Pitaloka terdiam. Namun, tak lama kemudian, sebuah senyuman perlahan merekah di wajahnya. Nama Giska sama sekali bukan nama asing baginya.
" Akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa bertemu langsung dengannya." ucap Pitaloka.
Ada binar bahagia di mata Pitaloka. Membayangkan dapat bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan dan sesekali mereka berkomunikasi melalui panggilan video, menghadirkan kehangatan tersendiri di hatinya karena kesibukan Giska. Pitaloka tahu, Giska adalah sosok yang begitu tulus, penuh perhatian, dan telah turut mengambil bagian penting dalam menjaga dirinya dulu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku udah bilang ke Giska soal kamu dan Key. Dia seneng banget dengar kamu udah pulang ke kampung halaman. Makanya dia pengen banget ketemu kalian berdua sebelum aku balik ke Jakarta besok lusa, dan jadwal Giska yang lagi kosong." ucap Baskara.
" Wah, akhirnya aku bisa bertemu Tante Giska juga! Om, Tante Giska orangnya baik, kan?" ucap Key matanya berbinar penuh antusias.
" Baik banget, Key. Tante Giska malah udah siapin makanan kesukaan kamu. Dia inget kok cerita-cerita kamu waktu kita video call." ucap Baskara.
Key melonjak kegirangan. Dengan spontan, ia memeluk lengan Baskara, menunjukkan betapa bahagia dirinya mendengar kabar tersebut. Kebahagiaan yang ia rasakan begitu murni, seperti serpihan mimpi yang satu per satu mulai menjelma menjadi kenyataan. Datuk Abu yang menyaksikan percakapan tersebut hanya mengangguk perlahan. Di balik wajah teduhnya, tersimpan rasa haru yang tak mampu ia tutupi. Ada secuil penyesalan dalam dirinya karena merasa tertinggal dalam sebagian besar perjalanan hidup putrinya. Namun, di sisi lain, ia merasa bersyukur karena mengetahui bahwa Pitaloka memiliki orang-orang baik seperti Baskara dan Giska yang dengan tulus selalu melindunginya.
" Kami sungguh bersyukur mendengar bahwa Pitaloka memiliki sahabat dan keluarga yang baik hati seperti kalian. Kami juga ingin sekali bertemu dengan Giska. Namun, mohon maaf, besok kami tidak bisa ikut serta karena ada pekerjaan di kebun yang tidak dapat ditinggalkan." ucap Datuk Abu merasa bersalah.
" Terima kasih banyak, Nak Baskara, atas segala kebaikan dan kesabaranmu mendampingi Pitaloka selama ini. Kami tidak tahu bagaimana nasib anak kami jika tidak ada Bu Yani, Nak Rena, Nak Bas dan Giska yang selalu menjaganya." ucap Bu Puspa menyambung dengan nada lembut.