EXT. HALAMAN RUMAH DATUK ABU - DESA KUMAYAN BENGKULU - MALAM
Suasana malam di desa Kumayan terasa mencekam. Pohon-pohon besar di sekitar rumah Datuk Abu terlihat seperti bayangan raksasa yang mengawasi. Angin berhembus pelan, membawa aroma khas dedaunan basah. Udara malam terasa dingin dan lembap. Sebuah mobil perlahan memasuki halaman rumah tua bergaya tradisional Melayu. Lampu dari teras rumah memberikan cahaya redup, memantulkan bayangan di dinding kayu yang mulai lapuk oleh usia. Sebuah mobil berhenti perlahan di depan rumah panggung sederhana. Gumara turun dari mobil, membuka pintu untuk Wiwit yang tampak lemah. Wajahnya pucat, sorot matanya redup seperti tertutupi beban berat yang tak kasat mata. Gumara berdiri di depan rumah itu, diam mematung. Sorot matanya penuh kerinduan bercampur luka lama yang kembali mencuat ke permukaan. Bayangan Pitaloka seperti menari-nari di pikirannya, menghantui setiap langkahnya. Ia memandangi rumah orang tua Pitaloka, mendiang istrinya, seseorang yang sampai kapanpun akan selalu Gumara rindukan.
Sudah bertahun-tahun Gumara menjauh dari Bengkulu. Sejak tragedi yang merenggut Pitaloka, wanita yang pernah menjadi belahan jiwanya sebelum ia menikah dengan Wiwit. Kejadian itu meninggalkan bekas luka yang begitu dalam hingga ia memilih meninggalkan kota kelahirannya. Jakarta menjadi pelariannya, tempat ia berusaha menghapus kenangan pahit itu, meski kenyataannya ingatan itu terus menghantuinya. Angin malam membawa bisikan samar, seolah memanggil kembali memorinya. Ia menutup matanya, dan bayangan Pitaloka muncul sosoknya tersenyum lembut, namun wajah itu memudar diiringi jeritan yang menggema dalam ingatannya.
" Pitaloka... " ucap Gumara berbisik, dengan suara lirih.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang berdegup kencang. Wajah Wiwit yang lemah terlintas dalam pikirannya, mengingatkannya pada alasan ia kembali. Ini bukan tentang masa lalunya, ini tentang menyelamatkan masa depannya bersama Wiwit. Dengan langkah mantap, meski berat, Gumara akhirnya melangkah menuju pintu rumah Datuk Abu. Suara derit pintu kayu yang ia dorong perlahan terdengar menggema di keheningan malam. Di dalam, aroma wangi dedaunan menyapa hidungnya, mengingatkan pada masa-masa ia menghabiskan waktunya bersama dengan Pitaloka yang merupakan muridnya di SMA Kayu Lima. Datuk Abu menatap Gumara dari ruang tengah, sorot matanya tajam namun penuh pengertian.
" Kau akhirnya kembali, Gumara. Apa yang membawamu kesini kali ini? tanya Datuk Abu dengan suara dalam.
Gumara menelan ludah, mencoba menyusun kata.
" Saya butuh bantuan, Datuk. Tolong bantu istri saya, Datuk. Teluh ini semakin melemahkannya setiap hari, dan kekuatan yang saya miliki tidak mampu menghilangkan teluh ini dari tubuh Wiwit." ucap Gumara dengan nada cemas.
" Masuklah, Gumara. Bawa Wiwit ke dalam." ucap Bu Puspa dengan suara cemas, melihat kondisi keponakannya.
...
INT. RUMAH DATUK ABU - DESA KUMAYAN BENGKULU - MALAM
Gumara dan Bu Puspa, istri datuk Abu membantu Wiwit melangkah masuk, sementara Datuk Abu menatap Wiwit dengan pandangan yang sulit diartikan. Bu Puspa melangkah cepat ke dapur untuk menyiapkan teh hangat. Gumara duduk gelisah di kursi kayu, sesekali menatap istrinya, Wiwit, yang terlihat pucat. Datuk Abu memperhatikan dengan sorot mata tajam, membaca sesuatu yang tidak biasa dari keponakannya.
" Wiwit... apa yang kau rasakan? tanya Datuk Abu dengan suara berat.
Wiwit diam, kepalanya tertunduk. Tangannya gemetar, memegangi perutnya. Gumara menggenggam tangan istrinya, mencoba menenangkan.
" Dia mulai merasa aneh sejak beberapa hari terakhir ini, Datuk. Badannya lemas, seperti ada yang menghisap energinya." ucap Gumara dengan nada cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Fanfiction17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
