17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Mentari siang menyelinap di antara rimbun pepohonan tua Hutan Kumayan. Cahaya yang menembus celah dedaunan menari-nari di atas tanah berlumut, seolah menyambut latihan pertama para penerus darah Inyek. Suara burung-burung hutan bersahutan, menciptakan simfoni alam yang berpadu dengan suara gemericik aliran sungai kecil di kejauhan. Di tengah lapangan alami yang dikelilingi pohon-pohon besar, Datuk Tunggal berdiri tegap dengan kedua tangan bertolak pinggang. Sorot matanya tajam, memperhatikan satu per satu wajah anak-anak para Inyek yang berdiri berjejer. Alina, Shakti, dan Putra Alam berdiri di barisan depan, sementara di belakang mereka, berdiri para ayah dan paman mereka Gumara, Rajo Langit, dan Humbalang, serta Limbubu yang berdiri sedikit lebih dekat ke Alina.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Hari ini... kalian akan memulai perjalanan kalian sebagai penerus sejati darah Inyek. Kekuatan yang mengalir di tubuh kalian bukan sekadar anugerah... tapi juga tanggung jawab. Hutan Kumayan ini bukan sekadar rumah, tapi juga medan ujian. Hanya mereka yang mampu menyatu dengan hutan ini... yang akan diakui sebagai Inyek sejati." ucap Datuk Tunggal dengan suara berat dan dalam.
Wajah Alina terlihat sedikit tegang, sementara Shakti dan Putra Alam tampak lebih antusias meski di balik semangat itu, mereka tak bisa menyembunyikan kegugupan mereka.
" Latihan pertama kalian sederhana. Dengarkan suara hutan. Rasakan napas pohon. Temukan jejak-jejak tersembunyi yang hanya bisa dirasakan oleh darah Inyek." ucap Datuk Tunggal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Dengarkan suara hutan? Rasakan napas pohon? Ini maksudnya apa sih... " ucap Alina dalam hati sembari mengerutkan keningnya.
" Lepaskan alas kaki kalian. Rasakan tanah ini dengan telapak kaki kalian. Dengarkan bisikan yang mengalir di dalam akar." ucap Datuk Tunggal melanjutkan.
" Aduh... tanahnya kan basah. Kotor lagi..." ucap Alina mengeluh, serta langsung meringis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.