17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Suasana di dalam ruangan terasa begitu sunyi. Hanya suara alat monitor kesehatan Key yang sesekali berbunyi pelan. Gumara masih duduk di sofa, sementara Pitaloka tetap di sisi ranjang Key. Matanya tampak sayu, kelelahan jelas tergambar di wajahnya. Namun, ia tetap bertahan di sana, tidak menunjukkan niat untuk beristirahat.
Gumara memperhatikannya sesaat, lalu akhirnya membuka suara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Pitaloka, kau belum tidur sejak tadi. Sebaiknya kau beristirahat. Aku ada di sini, aku yang akan menjaga Sekar." ucap Gumara dengan suara tenang dan lembut.
Pitaloka menggeleng pelan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku tidak bisa, Pa Mara. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Sekar saat aku tertidur?" ucap Pitaloka suara lemah namun tegas.
Gumara menarik napas panjang. Ia tahu betapa kuatnya naluri seorang ibu yang tidak ingin kehilangan putrinya lagi. Namun, ia juga melihat betapa lelahnya Pitaloka.
" Kondisi Sekar sudah stabil, Pita. Dokter Giska sendiri mengatakan bahwa Sekar dalam masa pemulihan. Kau harus percaya padanya." ucap Gumara dengan lembut, namun tetap tegas.
Pitaloka menunduk, tangannya menggenggam erat tangan Key yang tertidur lelap.
" Aku takut, Pa Mara... Aku takut kalau aku tertidur, lalu sesuatu terjadi... Aku tidak ingin kehilangan dia lagi." ucap Pitaloka suara bergetar sedikit.
Gumara mendekati Pitaloka, lalu menaruh tangannya di atas pundak wanita itu dengan penuh ketulusan.
" Kau tidak akan kehilangan dia, Pitaloka. Aku berjanji. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi. Aku akan selalu menjaga kalian berdua." ucap Gumara dengan penuh keyakinan.
Cahaya redup dari lampu perawatan Key menciptakan suasana yang tenang namun juga terasa canggung. Pitaloka yang awalnya duduk di sisi ranjang Key kini telah berpindah ke sofa dekat jendela. Ia melipat tangannya di dada, menatap ke luar jendela, melihat gemerlap lampu kota yang samar-samar terlihat dari balik tirai. Gumara, yang masih berdiri di dekat ranjang Key, melirik ke arah Pitaloka. Ia bisa merasakan ketegangan di antara mereka. Sudah terlalu banyak hal yang terjadi, dan meskipun situasi mulai membaik, tetap ada batas yang tak kasat mata di antara mereka. Dengan napas panjang, Gumara akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Pitaloka di sofa. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain.