17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Farah berdiri di sudut ruangan, memperhatikan setiap orang yang tengah berkumpul di sana. Matanya tertuju pada Sekar yang masih terbaring dengan selang infus di lengannya, serta wajah pucat yang masih belum sadarkan diri. Lalu, pandangannya beralih pada Gumara yang duduk di samping ranjang putrinya, menggenggam tangan Sekar dengan penuh kasih. Di sisi lain, Wiwit berdiri tidak jauh dari mereka, raut wajahnya tampak tegang meski ia berusaha menutupi kegelisahannya dengan senyum tipis. Namun, Farah dapat melihat ketakutan yang mulai menggerogoti wanita itu.
Dalam hati, Farah mulai mengambil keputusan.
" Mungkin ini saatnya... Aku tidak bisa membiarkan Wiwit terus bersembunyi di balik topengnya. Aku tidak ingin ada lagi orang yang menjadi korban kelicikannya. Gumara harus tahu, semua orang harus tahu!" ucap Farah, dalam hati.
Farah mengepalkan tangannya, menguatkan tekadnya. Ia tahu ini bukan hal yang mudah, tetapi jika ia diam saja, kejahatan Wiwit mungkin akan semakin menjadi-jadi.
Semua orang masih berada di dalam ruangan, menanti Sekar yang masih belum sadarkan diri. Suasana hening, hanya terdengar suara alat medis yang berdetak pelan. Tiba-tiba, Farah mengambil langkah maju ke tengah ruangan. Dengan napas berat, ia menguatkan hatinya untuk mengungkapkan kebenaran yang selama ini terpendam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpa Sekar." ucap Farah menatap semua orang dengan serius.
Seketika, ruangan menjadi tegang. Semua orang mengalihkan perhatian mereka ke arah Farah. Datuk Abu dan Bu Puspa saling berpandangan, sementara Gumara yang duduk di samping ranjang putrinya mengangkat wajahnya dengan mata tajam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Apa maksudmu, Farah?" ucap Gumara dengan suara berat dan penuh emosi.
Pitaloka menatap Farah dengan penuh harap, sementara Baskara hanya diam menunggu kelanjutan perkataan Farah. Wiwit, yang berdiri tidak jauh, tiba-tiba merasa tubuhnya menegang. Ia menggigit bibirnya, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.