17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Mentari pagi menyinari perbukitan di kejauhan, embun masih melekat di dedaunan halaman belakang rumah keluarga Humbalang. Di dalam rumah yang asri dan bersahaja itu, aroma tumisan bumbu dapur mulai menyebar, menandakan seorang ibu telah memulai aktivitas paginya dengan penuh cinta. Farah, wanita yang dikenal lemah lembut namun cekatan, berdiri di depan kompor dengan celemek bunga-bunga yang membalut tubuh rampingnya. Ia sedang memasak dengan gerakan teratur dan penuh perhatian menggoreng tempe, mengaduk sayur bening, dan mengangkat nasi hangat dari penanak. Di wajahnya terpancar kebahagiaan sederhana menyuguhkan sarapan untuk keluarga tercinta. Setelah semuanya tertata rapi di meja makan kecil yang bersih dan rapi, Farah menepuk tangannya, menghela napas puas. Ia tersenyum kecil, lalu mengusap peluh di keningnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Alam pasti belum bangun lagi... seperti biasa." ucap Farah sendiri, pelan.
Farah lalu melepas celemeknya, menggantungnya di dinding dapur, dan berjalan menuju kamar anak semata wayangnya.
...
INT. RUMAH HUMBALANG - KAMAR PUTRA ALAM - PAGI
Kamar itu rapi namun mencerminkan karakter anak muda seusia Putra Alam. Di pojok kamar terdapat rak buku bertumpuk dan novel. Di dinding terpajang beberapa foto kegiatan sekolah dan deretan bingkai foto yang Alam ambil dengan kamera bidikannya. Namun saat ini, isi kamar terlihat tenang... terlalu tenang. Di atas ranjang yang besar untuk ukuran remaja, Putra Alam masih tertidur pulas, bergelung manja dengan bantal dan guling. Tubuhnya tenggelam dalam selimut biru tua, satu kaki menjulur keluar, tanda ia benar-benar nyaman di dunia mimpi.
Farah membuka pintu pelan, lalu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat anak laki-lakinya yang belum juga bangun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Astaga, Nak... sudah hampir jam tujuh. Matahari sudah tinggi, ayam sudah selesai berkokok, tapi kamu masih mesra saja dengan bantal dan gulingmu itu." ucap Farah menceloteh sambil tersenyum.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.