86

941 59 17
                                        

INT. RUMAH DATUK ABU – RUANG TAMU – MALAM

Pitaloka masih berdiri terpaku di depan kamarnya. Cahaya lampu temaram membentuk bayangan samar di wajahnya. Matanya memancarkan kebingungan dan ketidakpastian. Dihadapannya sudah ada Datuk Lebai Karat bersama keluarganya. Tatapan mereka dipenuhi keterkejutan dan ketidakpercayaan. Bu Ratih, mertuanya, terdiam sejenak. Matanya membelalak, seakan tak percaya dengan sosok yang kini berdiri di hadapannya. Napasnya tercekat, bibirnya sedikit bergetar, namun tak ada kata yang terucap. Bu Ratih, dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, melangkah mendekati Pitaloka. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh wajahnya, memastikan bahwa ini bukan mimpi.

" Pitaloka... ini benar kamu, Nak?" ucap Bu Ratih dengan suara bergetar. 

Pitaloka menatapnya, matanya ikut berkaca-kaca.

" Iya, Bu Ratih... ini Pita." ucap Pitaloka lembut, hampir berbisik. 

Bu Ratih tak mampu menahan diri. Dengan isak yang tertahan, ia langsung merengkuh Pitaloka ke dalam pelukannya, seolah takut kehilangannya lagi. Sementara itu, Datuk Lebai Karat masih terpaku di tempatnya. Pandangannya tajam, seakan ada ribuan pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, hanya diiringi suara isakan lirih yang pecah di malam itu. Tangis Bu Ratih masih terdengar lirih saat ia memeluk Pitaloka dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Tubuhnya bergetar, dipenuhi perasaan yang bercampur aduk antara haru, bahagia, dan ketidakpercayaan. Pitaloka membalas pelukan itu dengan tatapan sendu. Matanya juga berkaca-kaca, menyadari betapa besar kerinduan yang terpendam dalam waktu yang begitu lama. Karina, adik dari Gumara, mendekati keduanya, wajahnya memancarkan keterkejutan sekaligus kebahagiaan. Matanya yang berbinar kini dipenuhi air mata yang menggenang. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok yang selama tujuh belas tahun terakhir hanya hidup dalam kenangan, sekarang berdiri nyata di hadapannya.

" Pitaloka... benarkah ini kamu?" ucap Karina dengan suara bergetar. 

Pitaloka mengangkat wajahnya, menatap Karina dengan penuh kehangatan. Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu penuh arti.

" Iya, Karina... ini aku." ucap Pitaloka lembut. 

Karina masih terdiam, seolah pikirannya tengah berusaha menerima kenyataan. Langkahnya perlahan mendekat, tetapi tubuhnya terasa begitu lemah. Dadanya dipenuhi emosi yang begitu besar. Begitu jarak mereka semakin dekat, Karina menggenggam tangan Pitaloka dengan erat. Tangannya gemetar, seakan takut bahwa ini hanya mimpi yang akan sirna kapan saja.

" Pita... ke mana saja kamu selama ini? Kami mencarimu. Kami merindukanmu setiap hari... Kami semua mengira kalau kamu tidak akan pernah kembali, Pita..." ucap Karina tersedu.

Mata Pitaloka semakin berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Karina lebih erat, mencoba menenangkan adik iparnya yang kini mulai menangis.

" Aku... aku tidak pernah ingin pergi sejauh ini, Karina. Ada banyak hal yang terjadi... hal yang mungkin sulit untuk dijelaskan dalam kata-kata." ucap Pitaloka suaranya lirih. 

Karina menggeleng pelan, air matanya jatuh satu per satu.

" Tujuh belas tahun, Pita... tujuh belas tahun kami hidup dalam ketidakpastian. Setiap hari aku berharap suatu saat kamu akan kembali. Aku bahkan sering bermimpi tentang kamu Pita... tetapi setiap kali aku terbangun, kenyataan selalu menyakitkan. Kamu tidak pernah ada di sini." ucap Karina dengan suara bergetar. 

Pitaloka menggigit bibirnya, menahan tangis yang nyaris pecah. Ia menyentuh pipi Karina dengan lembut, mengusap air matanya.

" Aku tahu... Aku tahu ini tidak mudah untuk kalian. Maaf... maaf karena aku telah membuat kalian menunggu begitu lama." ucap Pitaloka lembut, penuh penyesalan. 

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang