17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Key masih berada dalam pelukan hangat neneknya, Bu Puspa. Air matanya terus mengalir tanpa henti, mengingat ibunya, Pitaloka, yang selama ini ia rindukan dalam diam. Hatinya terasa sesak, seperti beban besar yang sulit ia lepaskan. Melihat putrinya dalam keadaan seperti itu, Gumara perlahan mendekati Key. Wajahnya dipenuhi penyesalan, tapi juga cinta yang tak terbendung. Ia menatap wajah putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Key... Ayah minta maaf... atas semuanya. Ayah tahu semua ini terlalu berat untuk kamu." ucap Gumara memanggil lembut, suaranya penuh dengan rasa bersalah.
Key, yang masih terisak dalam pelukan neneknya, mengangkat sedikit wajahnya dan melihat ayahnya. Gumara membuka lengannya, mengisyaratkan bahwa ia ingin memeluk putrinya. Perlahan, Key melepaskan diri dari neneknya dan jatuh ke dalam dekapan Gumara. Tangisnya semakin keras, menumpahkan segala rasa yang selama ini ia pendam. Gumara memeluk Key erat, seolah ingin memberikan kekuatan melalui pelukan itu. Key masih terisak dalam pelukan ayahnya. Air matanya tak berhenti mengalir, mencerminkan betapa berat beban yang ia rasakan.
" Ayah... kenapa semuanya harus jadi begini? Kenapa harus begitu sulit untuk kita?" ucap Key dengan suara yang penuh kesedihan.
Gumara menghela napas panjang, menundukkan kepalanya sejenak. Ia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan putrinya, karena ia sendiri merasa tak berdaya menghadapi kenyataan ini. Ia mempererat pelukannya pada Key, mencoba memberikan rasa aman, meski ia tahu itu belum cukup untuk menghapus rasa sakit yang ada di hati putrinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Maafkan Ayah, Key... Maafkan Ayah, Ayah hanya bisa minta maaf... untuk semua yang telah terjadi." ucap Gumara lirih. Suaranya bergetar, penuh dengan penyesalan yang mendalam.
Key tidak menjawab, hanya tangisannya yang terdengar semakin dalam. Ia memeluk ayahnya erat-erat, mencari kenyamanan dalam dekapan pria yang selalu ia pandang sebagai pelindungnya. Bu Puspa dan Datuk Abu, yang menyaksikan momen itu tak mampu menahan air matanya. Ia tahu, rasa sakit yang dirasakan cucunya tidak bisa segera hilang, tapi ia juga tahu bahwa cinta dari seorang ayah akan menjadi kekuatan untuk Key. Gumara mengusap lembut kepala Key yang masih berada dalam pelukannya. Ia tahu bahwa kesedihan putrinya tak akan hilang begitu saja, namun ia ingin memberikan sesuatu yang mungkin dapat membuat Key merasa lebih kuat.
" Key, Ayah ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat," ucap Gumara lembut, mencoba menatap mata putrinya yang masih basah oleh air mata.
" Ke mana, Yah?" tanya Key lirih, mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan penuh kebingungan.
" Ke rumah keluarga Ibu kamu. Ke rumah Kakek Abu dan Nenek Puspa di Kumayan, Ada banyak cerita tentang Ibu kamu yang belum sempat Ayah sampaikan, dan mereka adalah orang-orang yang bisa membantu kamu lebih mengenalnya." ucap Gumara.
" Iya, Nak. Kakek dan Nenek sudah lama ingin menceritakan semuanya. Ini adalah waktu yang tepat untukmu mengetahui lebih banyak tentang Ibumu. Dia akan selalu hidup di dalam hatimu, Sekar." ucap Bu Puspa, yang berdiri tak jauh dari mereka, tersenyum lembut. Ia melangkah mendekat, menambahkan,