17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
EXT. HALAMAN RUMAH DATUK ABU - DESA KUMAYAN - MALAM
Suasana malam di Desa Kumayan begitu hening, hanya suara angin dan gemerisik dedaunan yang terdengar. Di bawah sinar bulan yang remang, sebuah mobil perlahan berhenti tepat di depan rumah Datuk Abu. Key yang masih duduk bersandar di bahu Bu Puspa, tiba-tiba membelalakkan matanya. Sosok itu... sosok yang begitu ia rindukan dan nantikan. Tanpa berpikir panjang, Key melompat dari kursinya dan berlari ke arah mobil itu.
" Om Baskaraaa!" ucap Key suara melengking penuh kegirangan.
Baskara yang baru saja keluar dari mobil, terkejut sejenak lalu tersenyum hangat. Pelukan erat Key langsung menyambutnya.
" Ya ampun, Key... Om kangen banget sama kamu! Kamu sehat kan, Key?" ucap Baskara mengelus lembut kepala Key.
" Om, Key kangen banget sama Om. Om beneran datang! Key pikir Om cuma bercanda waktu bilang mau ke sini lagi waktu itu." ucap Key suaranya bergetar penuh haru.
" Mana mungkin Om bercanda soal ini. Om harus ketemu kalian sebelum balik ke Jakarta." ucap Baskara tertawa kecil.
Dari dalam rumah, suara riuh Key memanggil nama Baskara sampai ke telinga Pitaloka. Langkahnya sempat terhenti di ambang pintu, hatinya bergetar. Nama itu... nama yang begitu berarti dalam hidupnya. Perlahan, Pitaloka melangkah keluar. Hatinya berkecamuk antara haru, bahagia, dan rasa syukur yang tak terucapkan. Saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri di depan mobil, dengan senyum khas yang selalu menguatkannya di masa-masa sulit, air matanya langsung menggenang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Baskara..." ucap Pitaloka dengan suara lirih hampir tercekat.
Baskara yang tengah berbincang dengan Key menoleh. Matanya membelalak, napasnya tertahan sejenak saat melihat sosok Pitaloka berdiri di depan pintu rumah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pitaloka melangkah mendekat, wajahnya bergetar menahan tangis bahagia. Ia berhenti tepat di depan Baskara. Tak ada kata-kata, hanya tatapan penuh syukur dan haru.