17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Dari balik rindangnya pohon besar, Wiwit berdiri membatu, tersembunyi di antara semak-semak. Matanya tajam menatap ke arah halaman rumah Datuk Abu, tempat pesta pernikahan Gumara dan Pitaloka berlangsung dengan begitu meriah. Tawa dan sorak sorai kebahagiaan terdengar hingga ke tempat Wiwit berdiri. Ia menyaksikan bagaimana Gumara dan Pitaloka tersenyum bahagia, bergandengan tangan di atas pelaminan, menerima ucapan selamat dari keluarga dan seluruh warga Kumayan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Mereka bahagia di atas penderitaanku... Kalian semua...!" ucap Wiwit mengeram dalam hatinya, matanya membara penuh kemarahan.
Perlahan, tangan Wiwit mengepal kuat, kukunya hampir mencengkeram kulit telapak tangannya sendiri. Napasnya memburu, menahan ledakan amarah dan dendam yang membakar di dadanya.
" Aku tidak akan membiarkan kalian terus tertawa seperti ini..." ucap Wiwit berbisik penuh kebencian.
Sore mulai bergulir ke arah senja. Bayangan Wiwit memanjang di atas rerumputan, seolah menjadi pertanda akan gelapnya sesuatu yang tengah dipendam dalam hatinya. Dengan sorot mata yang penuh dendam, Wiwit berbalik meninggalkan tempat persembunyiannya, menghilang ke dalam kegelapan pepohonan hutan Kumayan.
...
INT. RUMAH DATUK ABU – RUANG TAMU – MALAM
Acara resepsi telah usai. Cahaya lampu temaram menyinari ruang tamu besar di kediaman Datuk Abu. Suasana terasa hangat dan penuh canda tawa. Para tamu undangan telah pulang, menyisakan keluarga besar dan sahabat dekat Gumara dan Pitaloka yang masih berkumpul melepas lelah sambil berbagi cerita. Gumara dan Pitaloka duduk berdampingan di salah satu sudut ruangan. Datuk Abu dan Bu Puspa berada di sisi mereka, sementara Datuk Lebai Karat dan Bu Ratih duduk bersandar di kursi panjang. Karina bersama suaminya Limbubu, Rajo Langit dan Ratna, serta Humbalang dan Farah, semuanya tampak santai, beberapa menyeduh teh hangat dan menikmati kudapan sisa perjamuan siang tadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Alhamdulillah... akhirnya acara hari ini berjalan lancar. Rasanya seperti mimpi melihat Kak Mara dan Pitaloka kembali bersanding." ucap Karina tersenyum.