17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Wiwit berjalan perlahan di atas jalan berbatu desa Kumayan. Langkahnya penuh keraguan, namun hatinya bertekad untuk menemui Datuk Lebai Karat dan meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ia perbuat. Matahari pagi mulai naik, tetapi suasana terasa dingin baginya. Di kejauhan, Farah melangkah dari arah berlawanan. Begitu melihat Wiwit, senyum sinis terukir di wajahnya. Ia mempercepat langkahnya hingga kini berdiri di hadapan Wiwit.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu belum cukup membuat kekacauan? Untuk apa kamu kembali ke desa ini?" ucap Farah menyilangkan tangan, menatap tajam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Aku hanya ingin meminta maaf... Aku sadar aku telah banyak melakukan kesalahan." ucap Wiwit menghela napas, menundukkan kepala.
" Maaf? Kamu masih punya muka untuk datang ke desa ini? Setelah semua yang kamu lakukan? Tidak ada seorang pun di desa ini yang masih peduli padamu, Wiwit." ucap Farah tertawa sinis, lalu menggeleng pelan.
" Ini bukan urusan kamu, Farah. Aku tidak perlu penilaian dari kamu." ucap Wiwit menarik napas dalam, suaranya terdengar datar namun tegas.
" Kamu pikir ini bukan urusanku? Kamu hampir saja membunuh Pitaloka, dan malah Sekar yang jadi korban! Kamu pikir aku akan diam saja setelah semua itu terjadi?" ucap Farah mendekat, tatapannya tajam.
Wiwit mengepalkan tangannya erat, namun ia tetap berdiri dengan tenang. Ia tidak ingin terpancing oleh emosi Farah.
" Sejelek apa pun aku di mata kamu, itu urusan keluargaku. Kamu tidak berhak mencampuri." ucap Wiwit suara lebih rendah, menahan emosi.
" Keluarga? Kamu masih berani menyebut kata itu? Kamu bukan bagian dari keluarga mereka lagi, Wiwit! Gumara sudah mencampakkan kamu!" ucap Farah menyipitkan mata, mengejek.
Wiwit terdiam sejenak. Jantungnya mencelos mendengar kata-kata itu. Namun, ia menegakkan punggungnya, berusaha tidak menunjukkan kelemahannya.
" Aku tidak datang untuk mencari belas kasihan, apalagi untuk bertengkar dengan kamu, Farah. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang seharusnya kuselesaikan." ucap Wiwit lirih namun tajam.