EXT. DESA KUMAYAN - SORE
Langit sore di Kumayan tampak berbeda. Cahaya keemasan matahari turun perlahan menyentuh pucuk pohon-pohon tua yang mengelilingi desa. Udara membawa harum dari bunga-bunga yang dirangkai warga untuk acara syukuran dan penyambutan para pejuang Kumayan. Terdengar tabuhan alat musik tradisional perlahan. Penduduk desa berpakaian adat, duduk melingkar rapi, menanti dimulainya acara yang telah lama dinanti. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, semua membawa wajah penuh harap dan syukur. Di tengah desa, sebuah panggung adat berbentuk lingkaran dari kayu nangka didirikan, dikelilingi obor yang telah siap dinyalakan saat malam turun. Panggung ini disebut "Tunggak Andalas", tempat sakral tempat para penjaga utama Kumayan diresmikan.
Langkah pelan terdengar dari belakangnya. Pitaloka, ibunya, mendekat dengan wajah tenang namun penuh kebanggaan. Ia berdiri di samping Key, ikut memandang arah yang sama. Sesaat, mereka berdua hanya diam, membiarkan angin Kumayan berbicara untuk mereka.
" Langkahmu baru saja dimulai, Sekar Kemuning... Tapi setiap Penjaga Kumayan tidak berjalan tanpa perlindungan." ucap Pitaloka suara lembut namun dalam.
Key menoleh. Matanya bertemu dengan mata ibunya yang begitu teduh namun penuh kekuatan. Tanpa berkata-kata lagi, Pitaloka membuka telapak tangannya yang kosong. Dari sana, percikan cahaya asap putih keperakan muncul melingkar lembut, membentuk sebuah cambuk panjang yang menggulung seperti ular tidur, tapi memiliki aura yang hidup.
" Ini adalah Cambuk Asap... senjata kuno yang pernah menyelamatkan nyawa Ibu berkali-kali. Ini bukanlah senjata biasa, Nak. Ia hanya akan patuh pada jiwa yang tenang dan hati yang jernih." ucap Pitaloka sambil menatap cambuk itu.
Key menatap cambuk itu dengan ragu.
" Key... belum yakin, Bu. Apakah Key layak untuk memegangnya?" ucap Key pelan.
" Bukan tentang layak atau tidak, Nak. Tapi tentang keberanian untuk menjaga. Dan kau... adalah anakku, telah membuktikan itu." ucap Pitaloka menatap langsung mata putrinya.
Pitaloka memegang tangan Key dan meletakkan cambuk asap itu ke telapak tangan putrinya. Cambuk itu langsung bereaksi, mengeluarkan hembusan asap tipis yang mengelilingi tubuh Key secara perlahan, seperti menyapa pemilik barunya.
" Hangat..." ucap Key suaranya bergetar.
" Karena ia mengenalmu. Sejak lama... ia telah menunggumu." ucap Pitaloka tersenyum.
Key menggenggam cambuk itu. Sebuah pancaran halus keluar dari pusat telapak tangannya tanda bahwa senjata kuno itu telah menerima ikatan baru. Gumara datang dengan senyum bangga, diikuti oleh Datuk Tunggal dan Ki Cahya, dua tetua besar Inyek.
" Sekar... darahmu mengalir dari dua mata air cahaya Ratu Andalas dan keberanian para penjaga Kumayan. Malam ini, kami tetapkan kau sebagai penjaga utama baru... takdir yang telah menunggumu sejak kau dilahirkan." ucap Datuk Tunggal suara berat dan sakral.
" Bukan kekuatan yang membuatmu dipilih... tapi hati. Kau telah membuktikan bahwa kau sanggup berdiri bahkan dalam ketakutan. Dan itu... adalah keberanian sejati." ucap Ki Cahya tersenyum lembut.
Pitaloka menundukkan kepala penuh hormat di hadapan mereka.
" Datuk Tunggal... Ki Cahya... izinkan aku menyampaikan rasa terima kasihku yang sedalam-dalamnya. Apa yang kalian lakukan untuk putriku... untuk Sekar Kemuning... tak akan pernah bisa ku membalasnya." ucap Pitaloka suara lembut namun tulus.
" Kami hanya menjalankan titah alam, Pitaloka. Anakmu bukan anak biasa... cahaya dalam dirinya sudah tumbuh bahkan sejak ia belum mengerti makna keberanian. Kami hanya membantu menyalakan pelitanya." ucap Ki Cahya tersenyum tenang, menatap Pitaloka.
" Dan kini pelita itu telah menjadi nyala api. Api yang akan menerangi jalan Kumayan dari bayang-bayang lama yang pernah mengancam. Kau telah mewariskan cahaya dengan benar, Pitaloka." ucap Datuk Tunggal dengan suara berat dan berwibawa.
" Aku sangat merasa bersalah... karena tidak selalu berada disampingnya saat ia membutuhkan ibunya. Tapi kini, melihat bagaimana ia berdiri... aku sadar, ia tidak sendiri. Ia dibesarkan oleh jiwa-jiwa besar... termasuk oleh kalian berdua." ucap Pitaloka terisak ringan, namun tersenyum.
" Takdirnya sudah ditulis dari darahmu, Pitaloka. Tapi kekuatannya tumbuh karena cintamu... meski dari kejauhan." ucap Ki Cahya menepuk lembut pundak Pitaloka.
" Dan kini tugasmu bukan hanya sebagai seorang ibu... tapi sebagai penuntun. Jangan ragu untuk mendampingi Sekar Kemuning... sebab gelap belum sepenuhnya pergi dari bumi ini." ucap Datuk Tunggal tersenyum tipis, menatap ke arah Key di kejauhan.
" Aku akan selalu berdiri di sisinya. Selama napas ini masih ada." ucap Pitaloka menatap Key yang tengah bercengkerama dengan Alina dan Putra Alam di kejauhan.
" Maka Kumayan akan aman. Karena cahaya lama telah melahirkan cahaya baru." ucap Ki Cahya dengan bijak.
" Dengarkan, leluhur Kumayan... kami hadirkan cucumu... Sekar Kemuning, darah Ratu Andalas, putri Gumara dan Pitaloka. Hari ini, ia kami tetapkan sebagai pelindung garis utama... pembawa cahaya yang akan menghempas kegelapan di bumi ini!" ucap Datuk Tunggal dengan suara menggema.
" Kuatkan tulangnya, terangkan jiwanya... dan hubungkan ia dengan cahaya para leluhur." ucap Ki Cahya dalam bahasa adat kuno.
Suara petir menggema jauh di langit. Angin berhembus lembut, membentuk pusaran kecil di sekitar Key, seolah alam menyambut pengangkatannya. Key menutup mata, lalu bersimpuh, menyentuhkan tangan ke lantai Tunggak Andalas. Tanah bergetar pelan. Dari bawah tanah, cahaya putih biru merambat naik membentuk pola seperti akar harimau dan bunga puspa, menyatu ke tubuhnya.
" Ini bukan akhir... tapi awal. Kita punya harapan baru." ucap Gumara berbisik lirih pada Pitaloka, menatap anak mereka.
" Dan harapan itu... telah tumbuh menjadi cahaya." ucap Pitaloka tersenyum pelan.
.
.
Terima kasih telah membaca. Jangan sampai ketinggalan kisah seru ini! Klik follow akun wattpad @ storyfanpage19 sekarang supaya kamu jadi yang pertama tahu saat bab pertama dipublikasikan. Cerita ini akan membawamu ke dunia yang berbeda, jadi siapkan dirimu! Stay tuned, ya! 😅
{Jangan lupa vote n follow}
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Fanfiction17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
