KEESOKAN HARINYA
EXT. HALAMAN RUMAH DATUK ABU – PAGI
Mentari pagi menyapa hangat desa Kumayan. Kabut tipis yang semalam menyelimuti lembah mulai menyingkir perlahan, memberi ruang bagi cahaya keemasan yang menyinari halaman rumah Datuk Abu. Di halaman luas yang telah dihias dengan nuansa adat Bengkulu terdapat kain songket menggantung anggun, janur kuning disusun rapi, dan bunga-bunga melati tersebar harum, semua orang bersiap menyambut hari yang sakral. Alunan talempong dan gandang tabuah mengalun dari sudut panggung kecil. Beberapa pemuda desa memainkan alat musik dengan khidmat, menambah suasana jadi lebih sakral dan menyentuh. Para ibu-ibu mengenakan busana tradisional dengan selendang tenun berwarna cerah, tersenyum ramah kepada para tamu yang mulai berdatangan.
Di sisi utama pelaminan, Gumara berdiri tegap dan gagah, mengenakan jas putih lengkap, sepatu kulit mengkilap, dan rambut yang ditata rapi. Wajahnya tampak berseri, namun di balik itu terlihat semburat gugup yang tak bisa ia sembunyikan. Sorot matanya sesekali melirik ke arah rumah, menantikan kehadiran seseorang yang begitu berarti.
...
INT. KAMAR PITALOKA - PAGI
Cahaya matahari menerobos lembut lewat jendela kayu. Di depan cermin besar, Pitaloka duduk dengan wajah anggun yang telah dirias secantik mungkin. Ia mengenakan gaun kebaya berwarna putih tulang dengan detail bordir halus di sepanjang lengan dan dada, lengkap dengan kerudung tipis yang menjuntai lembut di punggungnya. Mahkota kecil dari kristal dan melati segar bertengger manis di kepala. Pitaloka tampak memesona, seolah waktu berhenti ketika ia menghela napas panjang. Bu Puspa berdiri di belakangnya, merapikan sedikit ujung kebaya putrinya. Bu Puspa berdiri di belakangnya, mengelus pelan bahu putrinya.
" Hari ini adalah hari yang telah lama Ibu tunggu, Pita. Kau terlihat begitu sangat cantik, seperti bidadari turun dari langit." ucap Bu Puspa lembut, hangat.
Pitaloka tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.
" Apakah Ibu yakin... ini jalan yang benar?" ucap Pitaloka berbisik lirih.
" Cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, meski harus melewati badai paling kelam. Kau dan Gumara sudah melewati semuanya, dan hari ini... adalah bukti dari kesetiaan cinta kalian berdua." ucap Bu Puspa menggenggam tangan putrinya.
Pitaloka menunduk pelan, matanya sembab karena terlalu banyak hal yang mengendap di hatinya. Ia hendak membalas ucapan sang ibu, namun suara pelan terdengar dari arah pintu. Key, anak semata wayangnya, melangkah masuk perlahan. Gadis itu berdiri sejenak memperhatikan ibunya dan neneknya, lalu tanpa banyak bicara ia mendekat dan duduk di samping Pitaloka.
" Ibu..." ucap Key.
Pitaloka mendongak. Senyum lembut terbit di bibirnya, walau air matanya belum sepenuhnya kering. Key meraih tangan ibunya, menggenggamnya erat dengan dua tangannya yang mungil namun hangat.
" Apapun yang menjadi keputusan Ibu... Key tahu itu pasti yang terbaik. Ibu selalu tahu jalan yang benar, bahkan saat Key sendiri belum bisa memahaminya. Key percaya pada Ibu." ucap Key pelan namun yakin.
Pitaloka tertegun. Matanya membulat sedikit, lalu perlahan mulai kembali berkaca-kaca, kali ini bukan karena cemas, tapi karena terharu. Ia membalas genggaman Key, lalu menariknya dalam pelukan.
" Terima kasih, Sayang... Ibu hanya ingin kamu tumbuh di tengah kebahagiaan, bukan luka seperti yang Ibu jalani dulu." ucap Pitaloka berbisik di telinga Key.
Bu Puspa menyaksikan momen itu dengan tatapan yang teduh. Ia menyentuh bahu Pitaloka dan berbisik lembut.
" Kau tidak sendiri, Pita. Kini kau punya keluarga... dan cinta yang telah kembali padamu." ucap Bu Puspa.
KAMU SEDANG MEMBACA
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATION
Hayran Kurgu17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
