122

860 53 12
                                        

1 BULAN KEMUDIAN

EXT. RUMAH DATUK ABU - MALAM

Langit malam di Desa Kumayan tampak cerah, dihiasi bintang-bintang yang berkedip seolah ikut merayakan kabahagiaan yang akan datang. Semilir angin malam membawa harum bunga melati dan daun pandan yang telah digunakan untuk menata hidangan esok hari. Seluruh sudut halaman rumah Datuk Abu dan Bu Puspa tampak ramai. Lampu-lampu minyak tergantung di sepanjang pagar dan pohon, memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan menenangkan.

Para bapak-bapak desa bahu-membahu membangun terop besar dengan atap putih dan hiasan janur kuning di sekelilingnya. Suara tawa dan perbincangan ringan mereka menambah hangat suasana malam itu.

" Besok pagi harus sudah berdiri kokoh ini, jangan sampai angin bikin roboh, malu sama pengantinnya!" ucap Pak Jayadi sambil memaku tiang terop.

" Pengantinnya kuat-kuat kok, terop roboh pun mereka tetap sah!" ucap Pak Ranto tertawa sambil mengangkat tali hiasan.

Semua tertawa lepas, mencairkan suasana kerja keras yang mereka jalani bersama.

Sementara itu, di dapur besar rumah Datuk Abu, para ibu-ibu desa tampak sibuk mengiris bawang, mengaduk santan, dan melipat daun pisang untuk kudapan. Bu Puspa dan Bu Ratih berdiri sebagai pemimpin dapur malam itu.

" Hati-hati apinya, jangan sampai gosong. Ini rendang untuk tamu-tamu yang datang!" ucap Bu Ratih sambil mengaduk rendang dalam kuali besar.

" Syukurlah semua kompak. Semoga besok acaranya lancar dan jadi berkah bagi Gumara dan Pitaloka." ucap Bu Puspa tersenyum sambil mengecek ketan di kukusan.

Tawa dan canda ibu-ibu itu menyatu dengan aroma bumbu dapur dan suara peralatan masak. Suasana penuh kegembiraan dan kehangatan yang hanya bisa ditemukan dalam gotong royong desa yang erat.

Di sisi lain rumah, Key dan Alina sedang membantu menghias ruang tamu dengan bunga segar yang baru dipetik dari kebun belakang. Mereka tertawa kecil, terkadang saling menyelipkan lelucon, namun mata mereka tak bisa menyembunyikan kebahagiaan.

" Akhirnya... Ibu dan Ayahku bisa bersama lagi." ucap Key tersenyum sambil menata bunga melati di meja tamu.

" Dan kamu akan jadi saksi saat mereka mengucap janji suci lagi. Ini seperti cerita dalam buku-buku cinta, tapi nyata ya Key." ucap Alina menatap sepupunya dengan senyum bahagia.

Key mengangguk pelan, matanya berbinar, penuh rasa syukur.

...

Setelah semua pekerjaan selesai, para warga desa mulai berpamitan pulang. Terop berdiri megah, kursi dan meja telah tertata rapi, dan makanan sebagian besar sudah siap untuk besok pagi. Datuk Abu dan Datuk Lebai Karat duduk berdampingan di bale-bale kayu di halaman depan, menyaksikan hasil kerja keras semua orang.

" Besok... anak kita akan menikah kembali. Siapa sangka, setelah semua badai itu, mereka bisa kembali dalam satu perahu." ucap Datuk Abu.

" Takdir memang aneh, kadang berputar begitu jauh, tapi akhirnya kembali ke pangkalnya juga. Aku sangat bahagia sekali Datuk, akhirnya Gumara dan Pitaloka bisa bersama kembali." ucap Datuk Lebai Karat.

Keduanya tersenyum, lalu menatap ke arah rumah, di mana cahaya remang-remang masih tampak dari jendela kamar Pitaloka.

...

INT. KAMAR PITALOKA - MALAM

Pitaloka duduk di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana, bukan untuk menikah malam ini, tapi sekadar mencoba bagaimana penampilannya nanti. Di meja rias, setangkai bunga kenanga dan selendang bordir disiapkan untuk besok.

WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang