38

861 54 13
                                        

Farah dan Pitaloka keluar dari warung dengan senyum yang masih merekah di wajah mereka. Angin pagi menyapa lembut, membawa aroma khas daun basah dan debu yang mulai menghangat di bawah sinar matahari. Keduanya berjalan berdampingan di jalanan kecil menuju arah terminal. Sesekali, tawa ringan terdengar di antara mereka, menciptakan suasana hangat yang seolah melunturkan rasa lelah perjalanan.

" Hostel yang aku ceritakan itu tidak jauh dari sini, Pita. Hanya beberapa blok ke arah timur." ucap Farah sambil menunjuk ke depan.

" Aku tidak menyangka tanpa sadar kamu itu sudah menyiapkan segalanya untukku, Farah. Terima kasih yah." ucap Pitaloka mengangguk, langkahnya santai namun penuh antisipasi.

" Apa gunanya sahabat kalau tidak saling membantu kan? Lagipula, aku ingin kamu nyaman selama di sini." ucap Farah tersenyum sambil menyentuh lengan Pitaloka ringan.

" Aku rasa, aku benar-benar beruntung punya sahabat seperti kamu." ucap Pitaloka melirik ke arah Farah, senyum penuh rasa terima kasih tergurat jelas di wajahnya.

" Kita ini adalah keluarga, Pita!" ucap Farah bercanda.

Farah dan Pitaloka terus melangkah menuju hostel yang kini terlihat semakin jelas di depan mereka. Bangunan itu sederhana namun tampak bersih, dengan dinding bercat kuning yang sedikit pudar oleh waktu. Sebuah papan nama kecil menggantung di atas pintu masuk, bertuliskan "Hostel Kayu Lima" dengan huruf-huruf yang sedikit luntur.

...

EXT. HOSTEL KAYU LIMA - PAGI

Di halaman hostel, terdapat beberapa kursi dan meja kayu yang diletakkan di bawah pohon rindang. Beberapa tamu terlihat duduk santai, menikmati udara pagi sambil menyeruput kopi dari cangkir mereka.

" Ini dia tempatnya. Tidak mewah, tapi cukup nyaman untuk menginap. Aku yakin kamu akan nyaman selama menginap di sini." ucap Farah tersenyum sambil menunjuk ke arah hostel.

Pitaloka mengangguk sambil mengamati bangunan itu. Matanya menyapu halaman yang tertata sederhana namun asri, memberikan kesan hangat dan ramah.

" Terlihat nyaman. Aku rasa ini akan jadi tempat yang cocok untuk aku selama berada di sini." ucap Pitaloka tersenyum kecil.

Saat percakapan mereka berlanjut, tatapan Farah tiba-tiba tertuju pada seorang pria yang baru saja keluar dari pintu hostel. Pria itu membawa tas kecil dan mengenakan kemeja rapi. Wajahnya tampak familiar. Farah mengerutkan kening sejenak, mencoba mengingat.

" Tunggu sebentar... Sepertinya aku kenal dengan pria itu." ucap Farah menyentuh lengan Pitaloka, berbicara dengan suara rendah.

" Memangnya siapa dia itu, Farah? Teman kamu?" ucap Pitaloka ikut menoleh ke arah pria tersebut.

" Bukan teman, tapi aku pernah melihatnya. Kalau tidak salah ingat, namanya Pak Kasbul, salah satu dosen dari Universitas Karya Bakti. Dia dosennya Putra Alam, anakku." ucap Farah menggeleng, kemudian tersenyum kecil.

" Kamu yakin?" ucap Pitaloka penasaran.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
WATTPAD VERSION : 7 MANUSIA HARIMAU NEW GENERATIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang