17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Pitaloka sedang membersihkan meja makan dengan gerakan lambat, tampak tenggelam dalam pikirannya. Wajahnya menyiratkan kebingungan dan kecemasan, seolah sedang merenungi sesuatu yang baru saja ia ketahui. Suara dari dapur terdengar samar, namun Pitaloka tampak tak menyadarinya, benar-benar larut dalam lamunannya.
Bu Yani, yang sedang membersihkan piring di dekatnya, memperhatikan kegelisahan Pitaloka. Menyadari bahwa Pitaloka belum juga selesai membersihkan meja makan, Bu Yani mendekat dengan raut wajah penuh perhatian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Pita, ada apa, Nak? Kamu kelihatannya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Sejak pulang dari terminal tadi, kamu tampak murung sekali." ucap Bu Yani berkata lembut.
Pitaloka terdiam sejenak, kembali dari lamunannya, lalu menatap Bu Yani. Dia menarik napas panjang, tampak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Ah, tidak apa-apa, Bu. Pita hanya... sedang memikirkan Sekar." ucap Pitaloka tersenyum tipis, berusaha menenangkan diri.
Bu Yani meletakkan piring dan mengelap tangannya, lalu duduk di samping Pitaloka, menatapnya dengan penuh kasih.
" Kalau memang ada yang mengganggu pikiran kamu, jangan sungkan untuk berbagi. Kadang, bercerita bisa membuat hati kamu lebih lega. Lagipula Ibu yakin anak kamu pasti akan baik-baik saja di sana." ucap Bu Yani meraih tangan Pitaloka dengan lembut.
Pitaloka tersenyum kecil, merasa tersentuh dengan perhatian Bu Yani. Namun, ingatan tentang pertemuannya dengan Uda Sam di taman, serta kebenaran yang baru saja ia ketahui, kembali menghantui pikirannya. Baginya, fakta yang baru ia ketahui itu bukan sesuatu yang mudah untuk ia ceritakan begitu saja.
" Iya, Bu. Pita hanya butuh istirahat sebentar. Terima kasih sudah peduli sama Pita ya, Bu." ucap Pitaloka berkata pelan.
Bu Yani mengangguk pelan, meski tampak khawatir. Dia tahu ada sesuatu yang berat di hati Pitaloka, tetapi memilih untuk tidak mendesaknya lebih jauh, memberi ruang bagi Pitaloka untuk memikirkan langkah-langkah yang harus diambilnya.
...
EXT. RUMAH BU YANI - SORE
Sebuah mobil berwarna putih berhenti di halaman panti yang juga merupakan rumah Bu Yani. Setelah mesin mobil dimatikan, seorang wanita cantik dan anggun, Farah, keluar dari mobil dengan senyum lembut di wajahnya. Pakaian rapi dan elegannya mencerminkan kepribadian yang tenang dan ramah.