17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Cahaya matahari sore yang hangat menerobos melalui jendela kamar, menciptakan bayangan lembut di dinding. Humbalang berdiri di ambang pintu, menatap sang istri Farah yang masih tertidur nyenyak di ranjang. Wajah Farah tampak tenang, seolah sedang menikmati istirahatnya setelah perjalanan panjang. Humbalang tersenyum kecil, namun sorot matanya menunjukkan keraguan. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang, tak ingin membangunkan Farah secara kasar. Ia duduk di tepi ranjang dan dengan lembut menggoyangkan bahu istrinya.
" Farah, sayang, bangun dulu. Sudah sore, kata kau ingin pergi jalan-jalan keliling desa." ucap Humbalang dengan suara lembut.
Farah mengerjapkan mata, perlahan mulai sadar dari tidurnya. Ia menatap Humbalang dengan wajah sedikit bingung, lalu tersenyum tipis.
" Hmm... sudah sore ya? Maaf, aku tertidur lama." ucap Farah dengan suara serak karena baru bangun.
" Tidak apa-apa. Aku tahu kau lelah, tapi aku tidak ingin kau kecewa karena aku batal memenuhi janji dengan kau tadi." ucap Humbalang menggelengkan kepala sambil tersenyum.
" Kamu itu selalu ingat janji, ya? Baiklah, beri aku waktu lima menit, aku akan bersiap sebentar." ucap Farah duduk perlahan, mengusap wajahnya untuk menghilangkan sisa kantuk.
Humbalang berdiri sambil mengangguk, kemudian mengambil segelas air di meja samping untuk diberikan pada Farah.
" Aku tunggu di luar. Minumlah dulu, supaya kau terlihat segar." ucap Humbalang tersenyum.
Farah menerima gelas itu dengan senyuman, meneguk airnya perlahan. Humbalang kemudian berjalan keluar kamar, memberikan waktu bagi istrinya untuk bersiap. Humbalang duduk di sofa ruang tamu, tubuhnya bersandar santai dengan satu tangan menopang dagu. Matanya tertuju pada pintu kamar yang masih tertutup, sesekali ia menghela napas ringan sambil menatap jam dinding. Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Farah keluar mengenakan pakaian kasual sederhana namun tetap anggun. Rambutnya terurai, memberikan kesan segar. Humbalang langsung menegakkan tubuhnya, matanya melebar saat melihat istrinya. Seketika senyum lebar muncul di wajahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Astaga, siapa wanita muda yang baru saja keluar dari kamar istriku ini? Cantik sekali!" ucap Humbalang dengan nada menggoda.
Farah menghentikan langkahnya, menatap Humbalang dengan alis terangkat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.