17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Key tersenyum lebar, lalu mengambil tempat di samping ibunya di ranjang kecil itu. Ia merapatkan diri, seolah ingin menyerap setiap kehangatan yang selama ini dirindukannya. Key merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tanpa ragu memeluk ibunya yang masih duduk di sampingnya. Pelukan itu erat, penuh kasih sayang, seolah ingin memastikan bahwa kehadiran ibunya bukan lagi sekadar mimpi.
" Ibu, Key sayang banget sama Ibu. Key nggak mau jauh dari Ibu lagi." ucap Key dengan suara lembut, hampir seperti bisikan.
Pitaloka tersentak mendengar kalimat itu, hatinya terasa hangat sekaligus tersayat. Ia mengusap lembut kepala Key, menunduk menatap wajah putrinya yang akan tertidur.
" Ibu juga sayang banget sama kamu, Nak. Kamu adalah alasan Ibu bisa bertahan sampai sekarang." ucap Pitaloka dengan suara penuh haru.
Key menatap wajah sang Ibu yang ada disampingya. Tangannya yang masih memeluk Pitaloka semakin erat.
" Jangan pergi lagi, Bu. Janji sama Key..." ucap Key dengan lembut.
Pitaloka menelan air mata yang hampir tumpah, tangannya mengusap lembut rambut putrinya.
" Ibu janji, Nak. Ibu nggak akan pergi lagi. Kita akan selalu bersama." ucap Pitaloka menatap lembut putrinya.
Di tengah keheningan yang nyaman, Key yang masih memeluk ibunya tiba-tiba bangkit sedikit, menatap wajah Pitaloka dengan tatapan penuh keingintahuan.
" Ada apa, Nak? Kamu mau bilang sesuatu?" ucap Pitaloka, yang menyadari perubahan raut wajah putrinya, tersenyum lembut.
Key mengangguk pelan, tapi masih terlihat ragu.
" Ibu... sebenarnya Key mau tanya sesuatu. Tapi, kalau Ibu nggak mau jawab, nggak apa-apa kok." ucap Key dengan suara pelan.
" Apa itu, Nak. Kalau Ibu bisa jawab, Ibu akan jawab. Kamu nggak perlu ragu untuk bertanya." ucap Pitaloka menatap putrinya dengan penuh perhatian, senyumnya tetap terukir.
" Dulu... waktu Ibu hilang, apa Ibu pernah merasa... ingin menyerah? Maksud Key, apa Ibu pernah berpikir kalau mungkin nggak akan bisa ketemu lagi sama Key dan Ayah?" ucap Key dengan suara sedikit bergetar.
Pitaloka terdiam sejenak. Pertanyaan itu seperti membuka kembali luka lama yang selama ini ia sembunyikan. Namun, ia tidak ingin putrinya merasakan kesedihan yang sama.
" Ibu nggak akan bohong, Nak. Ada saat-saat di mana Ibu merasa sangat lelah. Rasanya seperti dunia ini terlalu kejam untuk Ibu. Tapi di saat-saat seperti itu, Ibu selalu ingat kamu. Bayangan wajah kecil kamu yang waktu itu baru belajar tersenyum... itu yang membuat Ibu bertahan." ucap Pitaloka dengan suara tenang.
Key terdiam, matanya berkaca-kaca.
" Jadi... Key adalah alasan Ibu terus hidup?" ucap Key dengan suara bergetar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.