17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Mentari mulai condong ke ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang menyapu langit di atas hutan Kumayan. Di tengah lebatnya pepohonan, suasana perlahan berubah semakin sunyi, hanya terdengar suara angin yang berdesir lembut, menggoyangkan dedaunan yang sudah mulai meranggas. Di sebuah area terbuka, Key duduk dengan napas terengah-engah. Keringat membasahi pelipisnya, dan tubuhnya tampak lemah setelah berulang kali mencoba bertahan dalam latihan yang begitu berat. Pitaloka, yang sedari tadi mengawasi putrinya, segera berjongkok di hadapan Key, menatapnya dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Sekar, kamu tidak perlu memaksakan diri. Ibu rasa latihan hari ini sudah cukup." ucap Pitaloka dengan penuh kekhawatiran.
Gumara, yang berdiri tak jauh dari mereka, masih menatap tajam ke arah Key. Ia memahami bahwa latihan ini diperlukan untuk membentuk ketahanan putrinya, namun ia juga tidak ingin melampaui batas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Key harus belajar mengendalikan kekuatannya. Jika ia berhenti sekarang, bagaimana ia bisa menguasai ilmu-ilmu kita, Pitaloka." ucap Gumara menatap tajam ke arah Key.
" Aku mengerti, Pa Mara. Namun, kau juga harus menyadari bahwa kekuatannya belum seutuhnya berkembang. Jika kita terus memaksanya dalam kondisi seperti ini, bukan hanya fisiknya yang akan terluka, tetapi juga jiwanya. Aura negatif di sekitar hutan ini terlalu kuat, aku bisa merasakannya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya." ucap Pitaloka dengan nada tegas.
Gumara mengalihkan pandangannya ke sekeliling. Pitaloka tidak salah, sejak mereka tiba di bagian hutan ini, udara terasa lebih berat. Suasana semakin gelap meskipun matahari belum sepenuhnya tenggelam. Getaran energi yang tidak bersahabat terasa menyelinap di antara pepohonan, seakan mengintai dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Gumara akhirnya menghela napas panjang, menurunkan sedikit egonya.
" Pa Mara, apakah kau menyadari betapa besar bahaya yang hampir saja menimpa putri kita? Jika hari ini kita tidak berada di sisinya, maka aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Sekar hampir kehilangan nyawanya di tempat ini, di tanah leluhur kita sendiri." ucap Pitaloka suaranya terdengar tenang, namun sarat makna dan ketegasan.