17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Key berjalan di samping ayahnya, langkahnya beriringan dengan langkah Gumara yang tegap. Suasana malam begitu hening, hanya suara gesekan dedaunan dan nyanyian jangkrik yang menemani. Ia melirik wajah ayahnya, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik ketenangan itu. Gumara tampak tenang, namun ada sesuatu di sorot matanya sebuah kedalaman yang sulit dijangkau oleh Key.
" Ayah... masihkah ada rasa itu untuk Ibu Pitaloka?" ucap Key berbisik pada dirinya sendiri.
Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, mendesak untuk keluar, namun selalu terhenti di tenggorokan. Key ingin tahu, namun ia takut mendengar jawabannya. Ia melirik Gumara lagi. Raut wajah ayahnya tidak berubah, tetap kokoh namun penuh pemikiran. Key menarik napas dalam, mencoba mencari keberanian untuk bertanya. Tapi, bibirnya tetap terkunci. Angin malam menerpa wajah mereka, membawa kesejukan yang tak cukup menenangkan hati Key. Ia berharap ada cara untuk memahami isi hati Gumara tanpa harus mengucapkan pertanyaan yang menggantung itu.
" Ayah, kalau saja Key bisa tahu... apakah cinta itu masih ada untuk Ibu?" lanjut Key dalam hati.
Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa menyimpan rasa penasaran itu dalam diam, sambil terus melangkah di samping ayahnya.
" Kamu ingin mengatakan sesuatu, Key?" tanya Gumara menyadari tatapan Key.
" Tidak, Ayah. Key hanya sedang menikmati malam ini." ucap Key terkejut, namun segera menggelengkan kepalanya dengan senyum kecil.
" Baiklah, kalau begitu. Tapi kalau ada yang ingin kamu tanyakan sama Ayah, jangan ragu, ya. Ayah selalu di sini untuk kamu, Key." ucap Gumara tersenyum tipis, kembali menatap jalan di depan mereka.
Key mengangguk, namun dalam hatinya ia masih ragu untuk bertanya. Pertanyaan itu terlalu berat baginya, dan ia takut jawaban yang mungkin ia dengar. Suasana kembali sunyi, hanya terdengar langkah kaki mereka dan suara alam malam. Gumara melirik putrinya, merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Key, dari sudut matanya, ia menyadari sesuatu, Key, putrinya, beberapa kali melirik ke arahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Key, ada apa? Sejak tadi Ayah lihat kamu sering melirik ke arah Ayah. Apa ada yang ingin kamu sampaikan, Key?" ucap Gumara menghentikan langkahnya perlahan, menoleh ke arah Key. Ada rasa penasaran yang muncul di dadanya, seakan ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh putrinya.
Key terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
" Enggak, Yah. Key cuma... ya, cuma mikir aja." ucap Key tersenyum kecil, mencoba mengalihkan.
" Apa yang kamu pikirkan, Nak? Ayah ini bukan orang lain, kalau ada sesuatu, kamu bisa ceritakan ke Ayah." ucap Gumara mengerutkan kening, merasa ada yang lebih dari sekadar "cuma mikir." Ia berhenti sejenak, menatap putrinya dengan lembut namun penuh perhatian.
Key menggigit bibirnya pelan, hatinya berdebar kencang, seolah-olah ada sesuatu yang besar hendak ia lakukan. Kata-kata yang sejak tadi hanya berputar di pikirannya kini mulai membentuk keberanian untuk keluar.