17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
EXT. HALAMAN RUMAH DATUK ABU - DESA KUMAYAN - SIANG
Langkah Bu Puspa dan Pitaloka semakin mendekati rumah. Dari kejauhan, Pitaloka mulai melihat rumah masa kecilnya, rumah yang menyimpan banyak kenangan, suka maupun duka. Saat akhirnya mereka tiba di halaman, Pitaloka menghentikan langkahnya, terpaku menatap rumah itu dengan mata berkaca-kaca. Semuanya masih terasa sama pagar kayu yang sedikit tua, pohon mangga di sudut halaman, hingga suara burung-burung yang berkicau di atap.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Rumah ini... masih sama..." ucap Pitaloka suara lirih, hampir berbisik.
Bu Puspa, yang berdiri di sampingnya, tersenyum haru. Air mata hampir jatuh dari sudut matanya, tapi ia menahannya. Ia menggenggam tangan putrinya erat, memberikan kekuatan yang dibutuhkan Pitaloka untuk melangkah lebih jauh.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Ini semua berkat Allah, Nak. Ia mengembalikanmu pada rumah ini, pada keluargamu. Sudah waktunya kamu kembali ke tempat di mana kamu seharusnya berada." ucap Bu Puspa lembut, penuh rasa syukur.
Pitaloka masih berdiri di tempatnya, Kilatan memori mulai bermunculan dalam pikirannya. Gambar-gambar masa lalu berkelebat cepat:
Ia melihat dirinya yang masih remaja, duduk di teras rumah, tertawa bersama sang Ayah, Datuk Abu. Suara ayahnya yang penuh kebijaksanaan masih terngiang jelas di telinganya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.