17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Bu Puspa terdiam sejenak, pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Tragedi penculikan Pitaloka bukan sekadar musibah, ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi saat itu. Ia menggenggam jemarinya erat, matanya menatap kosong ke arah lantai kamar. Siapa orang jahat di balik penculikan itu? Mengapa ada seseorang yang ingin menghilangkan Pitaloka?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Siapa yang sebenarnya ingin mencelakaimu, Nak...? Dan kenapa?" gumam Bu Puspa, lirih.
Pitaloka menatap ibunya, menyadari keresahan yang kini muncul dalam pikiran Bu Puspa. Pitaloka mengambil napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia simpan. Bu Puspa menatapnya dengan penuh tanda tanya, jantungnya berdegup kencang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Bu... Pita sudah tahu siapa dalang dibalik penculikanku dan putra Rajo Langit 17 tahun lalu." ucap Pitaloka lirih, menunduk.
Bu Puspa tertegun, matanya melebar. Ia menggenggam tangan putrinya erat, mencoba mencari kepastian dari wajah Pitaloka yang kini terlihat penuh beban.
" Siapa, Nak? Siapa orang jahat itu?" ucap Bu Puspa terkejut, cemas.
Pitaloka menghela napas berat, sebelum akhirnya menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
" Salah satu dari mereka... adalah orang terdekat kita, Bu." ucap Pitaloka pelan, hampir berbisik.
Bu Puspa membeku. Detik itu juga, hatinya terasa mencelos. Tangannya yang menggenggam Pitaloka mulai bergetar.
" Orang terdekat? Tidak mungkin... Siapa, Pitaloka? Siapa yang tega melakukan ini pada keluarganya sendiri?" ucap Bu Puspa gelisah, suara bergetar.
Pitaloka menutup matanya sesaat, lalu mengeratkan jemarinya di atas pangkuannya. Ia tahu setelah ini, tidak akan ada lagi yang sama. Kebenaran yang akan ia ungkapkan bisa menghancurkan segalanya. Pitaloka menatap lurus ke arah ibunya, mencoba menenangkan hatinya yang kini terasa penuh gejolak. Ia tahu, setelah ini tidak akan ada jalan untuk kembali.
" Ibu... apakah Ibu akan percaya, jika Pita menyebut sebuah nama? Nama yang mungkin Ibu sendiri tidak akan percaya dia bisa melakukan semua ini...?" ucap Pitaloka lirih, ragu-ragu.