17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
INT. RUANG TAMU RUMAH DATUK ABU - DESA KUMAYAN - MALAM
Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, Datuk Abu, Bu Puspa, Gumara, dan Key duduk bersama. Key tampak lebih tenang setelah menerima berbagai penjelasan tentang keluarganya. Namun, suasana menjadi sedikit sendu ketika Bu Puspa berbicara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Sekar..., cucu nenek yang cantik. Kami tahu mungkin ini berat untukmu, tapi nenek ingin kamu tahu satu hal." ucap Bu Puspa dengan suara lembut, menatap Key.
Key mengangkat wajahnya, menatap neneknya dengan penuh perhatian.
" Kehadiran kamu di sini adalah kebahagiaan terbesar bagi kami berdua. Setelah kehilangan ibumu, Pitaloka, bertahun-tahun lalu... hanya kamu yang menjadi pengobat rindu kami. Hanya kamu, Sekar Kemuning." ucap Bu Puspa melanjutkan, dengan senyum tipis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Itu benar, Sekar. Kami berharap kamu bisa sering-sering datang ke Kumayan. Meski kami tak bisa menggantikan sosok ibumu, kami ingin kamu tahu bahwa kamu selalu punya rumah di sini." ucap Datuk Abu mengangguk, mendukung pernyataan istrinya.
Key terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan kakek dan neneknya.
" Key mengerti, Nek, Kek. Key janji, Key akan sering datang ke sini. Key juga ingin lebih banyak mengenal keluarga ini... mengenal ibu Pitaloka." ucap Key dengan suara pelan.
Bu Puspa tersenyum lebar, sementara Datuk Abu menepuk bahu cucunya dengan bangga. Gumara, yang duduk di sisi Key, juga merasa terharu melihat kehangatan keluarga yang akhirnya menyatu.
" Kamu adalah penghubung di antara kita semua, Key. Kamu adalah bagian dari sejarah keluarga ini." ucap Gumara tersenyum, menatap Key.
Key mengusap air mata kecil yang menetes, lalu tersenyum lembut kepada semua orang di ruangan itu.
" Key akan menjaga hubungan ini, Nek, Kek. Kalian adalah keluarga yang sangat berarti bagi Key." ucap Key dengan suara mantap.
Ruangan itu dipenuhi kehangatan dan rasa saling memiliki. Malam itu menjadi momen yang tidak akan dilupakan oleh mereka, sebuah malam yang mempererat hubungan keluarga di tengah luka kehilangan. Gumara melirik jam dinding yang menunjukkan waktu sudah cukup larut. Ia menoleh ke arah putrinya, Key, yang tampak duduk dengan wajah tenang.