17 tahun telah berlalu sejak Pitaloka, istri tercinta Gumara Peto Alam, diculik secara misterius. Gumara, yang masih terpukul oleh kehilangan istrinya, berjuang keras untuk menemukan Pitaloka namun selalu menemui jalan buntu. Kehidupan Gumara kini h...
Matahari pagi menyinari jalanan desa yang masih lengang. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan, menciptakan harmoni alam yang tenang. Pitaloka berjalan perlahan, pikirannya masih dipenuhi kenangan tentang Gumara. Setiap langkah yang ia ayunkan terasa begitu berat, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya.
Namun, dalam sekejap, kedamaian itu hancur. Saat suara deru mobil melaju kencang menghancurkan kesunyian pagi.
VRROOOMMM!!
Dari kejauhan, Pitaloka melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan desa yang sempit. Matanya membesar, tubuhnya membeku seketika.
" Astaga..." ucap Pitaloka berbisik cemas.
Sebelum sempat berpikir lebih jauh, mobil itu semakin mendekat! Suara mesin yang memekakkan telinga. Pitaloka tersadar, mobil itu melaju langsung ke arahnya!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" IBUUU... AWASSSS!!" teriak Key dari kejauhan.
Suara itu... Pitaloka menoleh, detik itu juga jantungnya seperti berhenti berdetak. Key berlari ke arahnya dengan wajah panik! Semuanya terjadi begitu cepat. Key melompat ke arahnya, mendorong tubuh Pitaloka ke tepi jalan.
Tubuh Key terpental ke udara. Darah menyembur dari mulutnya sebelum ia jatuh dengan keras di atas tanah. Tubuhnya menghantam tanah berdebu dengan suara yang memilukan. Pitaloka terjatuh di tepi jalan, napasnya tersengal. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menyadari apa yang baru saja terjadi. Jantungnya berdegup kencang. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa.
Dan ketika ia menoleh... dunia seakan berhenti berputar. Di tengah jalan, Key tergeletak tak bergerak. Darah segar mengalir dari kepalanya, meresap ke dalam tanah desa Kumayan. Tangannya terentang, tubuhnya seperti boneka yang kehilangan nyawa.
" SEKARRRRR!!!!" teriak Pitaloka memekik histeris, suara jeritannya menembus udara pagi yang tenang.
Pitaloka merangkak dengan napas tersengal-sengal. Tangannya gemetar saat menyentuh wajah putrinya yang dingin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.