TW! BLOOD
Implied self-harm
-----------------------------------------------
Pas sampe di apartment tempat Yuki dan Kei, Heeseung ngeliat pintu flatnya Kei kebuka, tapi ga ada orang sama sekali dan gelap.
Dia buru-buru lari masuk ke dalem unit itu, dan ngeliat Yuki berdiri di depan pintu kamar mandi, dan ada Riki yang berusaha ngedobrak pintunya.
"Riki, awas!" Heeseung ngomong ke sepupunya sambil siap-siap mau ngedobrak pintu itu
Ga pake banyak tanya, Riki langsung minggir. Mungkin Heeseung bakal jauh lebih kuat buat ngedobrak pintunya, jadi dia ngebiarin aja kakak sepupunya nyoba.
"Hati-hati!" Yuki ngomong ke temennya. Takut aja kalo korbannya makin nambah banyak
BRAK!
"Jesus!" Yuki melotot ngeliat pintu kamar mandi langsung kebuka abis didobrak.
Sementara itu Riki nyelonong masuk ke dalem kamar mandi, mau ngeliat keadaan cowok tinggi itu, "KAK HEE! INI BANYAK DARAH!"
Heeseung bisa gnerasain tiba-tiba badannya langsung dingin. Sama persis rasany kayak pas dia dapet kabar kalo adeknya ada yang nkam. Tapi untungnya, pikirannya masih bisa jernih
Jadi dia nengok ke Yuki dan ngomong ke cewek itu, "Call the ambulance!"
Yuki yang awalnya cuma bisa bengong, ngangguk dan nelpon ambulance biarpun tangannya masih gemeteran.
Sambil ngedengerin suara paniknya Yuki yang nelpon 119 buat minta ambulance, Heeseung masuk dan ngeliat cowok itu udah duduk di lantai kamar mandi, tangannya penuh darah.
"Riki, ambil kain" Heeseung nyuruh adek sepupunya
"Kain apa?"
"Apa aja! Baju! Sapu tangan ato celana! Cepet!"
Riki lari keluar dari kamar mandi, nyari kain, sementara itu Heeseung ngeliatin keadannya Kei. Bibirnya udah pucet, matanya mulai hilang fokus, "YUKI.. KYUUKYUU DOU?!" (ambulancenya gimana?)
"ima, mukatte iru!" (Sekarang lagi menuju kesini!) Cewek itu ngebales
"Kak Hee! Ini ada kemeja!" Riki nyodorin kemeja flanel ke Heeseung
Cowok itu langsung ngerobek kemejanya, ngelilitin itu di tangan, dan ngebaringin Kei di lantai kamar mandi, terus ngangkat lengan yang udah berdarah itu biar lebih tinggi, "Riki, bantu sangga tangannya di atas sini"
Riki nurut aja dan ngelakuin apa yang disuruh sama kakak sepupunya.
Si mahasiswa diem aja sampe akhirnya ambulance dateng dan Kei digotong masuk ke dalem mobil itu. Yang nemenin cowok tinggi itu Riki. Sementara Heeseung sama Yuki naik taksi lagi ke rumah sakit.
Awalnya udah niat jalan kaki, soalnya takut udah ga ada taksi malem-malem kek gini, tapi untungnya ada yang lewat. Yuki langsung nyetop taksi itu dan mereka naik berdua.
Di mobil, Heeseung ngelirik tangannya Yuki yang masih gemeter dikit, "Udah.. Ga usah panik, dia udah ditangani"
Cewek itu ngangguk doang. biarpun udah dalam perjalanan ke rumah sakit, Yuki tetep masih deg-degan, jadi dia coba nanya, "How could you know that... that--"
"That he's going to commit suicide?" Heeseung nyelesein pertanyaannya Yuki, sebelum ngejawab, "he called me. Out of the blue."
"You have each others' number?"
Heeseung ngegeleng, "it was an unknown number that calling me."
Yuki keinget sama kata-katanya Riki tadi, "Tunggu.. Katanya Riki, kamu ga bakal ngangkat telpon dari nomor yang ga dikenal?"
KAMU SEDANG MEMBACA
UPW - Urusan Penerus Warisan
Fanfiction"Kayaknya gue menyetujui kerjasama ini untuk membantu hal-hal yang berkaitan dengan kerjaan deh" "Ini juga jadi kerjaan kalo ga selesai" "Ngurusin masalah percintaan lu ga ada di jobdesk gue, bangsat!" "Kita simbiosis mutualisme aja, deal?" "..." "...
