76. Stuck With You

1.8K 112 8
                                        

Author's Note: 

Bagian awalnya bahas bisnis dulu, yah. Soalnya keluarga Ranggatama nggak mikirin bisnis itu nggak mungkin. 

**********************************

Gio dan ayahnya bertemu dengan pemilik Gudeg Apik Roso yang viral dan membuat mereka shock karena rasanya yang lebih enak dari restoran mereka pada pagi keesokan harinya. Mereka bertemu di sebuah cafe sederhana di dekat kios gudeg tersebut. 

Pemilik kios yang bernama Pak Yahya itu terlihat bersahaja, duduk sendiri berhadapan dengan papi, Gio dan Om Doni. 

"Ada apa ini, sampai saya disambangi sama Pak Hardian Ranggatama?"

Mereka sudah bersalaman tadi saat pertama bertemu. 

Pak Yahya tak terlihat terintimidasi, mengingat pengusaha terkaya se-Indonesia itu tiba-tiba mengajak bertemu. 

"Iya, Pak. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu kami. Saya Hardian Ranggatama. Ini anak saya, Gio, dan ini Kepala Sekretaris saya, Doni. Saya meminta bertemu dengan bapak hari ini adalah karena kami sangat kagum dengan gudeg bapak. Kami ingin menawarkan dua hal. Kami ingin membeli resep bapak, atau menawarkan untuk bekerja sama."

Sejenak Pak Yahya terdiam, memandangi papi yang datang dengan memakai kemeja rapi. 

"Ini betul-betul situasi yang tak disangka-sangka," jawab Pak Yahya sambil tersenyum. "Apakah ini sesuatu yang biasa untuk Bapak?"

"Sama sekali tidak. Saya belum pernah ingin membeli resep orang lain. Jujur saja, gudeg di kios bapak sangat enak. Saya jadi ingin membeli restoran bapak. Atau kalau tak mau dibeli, ayo kita kerja sama."

"......buat apa Ranggatama mau kerjasama dengan saya? Saya cuma punya warung gudeg di pinggir jalan."

"Di Jalan Malioboro, Pak, bukan jalan biasa," Papi menyahut sambil tersenyum. "Warungnya juga bukan warung biasa, tapi viral di kalangan penggemar kuliner. Gudeg bapak terkenal di Tik Tok. Ada sesuatu di gudeg buatan Bapak yang tak ada di restoran lain. Bahkan di restoran saya."

".............di restoran Ranggatama ada gudeg juga?"

"Ada, Pak. Itu salah satu menu unggulan kita. Bahkan di Inggris, Perancis, Italia dan Spanyol, gudeg di restoran kami adalah menu favorit."

"Apa betul begitu, Pak? Orang Eropa suka makan gudeg? Atau orang Indonesia yang tinggal di sana yang beli?"

"Tentunya orang Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri adalah pelanggan setia kami di sana. Tapi banyak juga orang Eropa yang suka masakan Indonesia, Pak. Gudeg adalah salah satu yang paling dicari."

"..........hebat, ya, Bapak promosikan masakan kita di Eropa."

Baru saat itu, Gio tersenyum. 

Sejak SMP, Papi memaksa Gio untuk les persiapan jadi CEO. Malas sekolah tak membuat sang Papi murka. Tapi kalau Gio malas les, Papi bisa mengunci playstationnya di lemari kantor.

Gio les dengan dosen-dosen Ekonomi dan Komunikasi sejak kecil, mulai dari belajar arti saham, valuta asing, sampai membaca laporan keuangan. Bahkan juga ada dengan pengacara law firm, manager bank, dan beberapa direktur perusahaan mereka. 

Semua dirancang untuk bisa dimengerti berapa pun umur Gio saat itu. 

Kalau kata guru komunikasi Gio, ada yang namanya The Turning Point dalam sebuah negosiasi. 

Sepertinya Papi dan Pak Yahya menemukan satu turning point. Rasa cinta pada masakan Indonesia, dan Pak Yahya menganggap Papi hebat karena mempromosikan masakan Indonesia di Eropa. 

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang