Saat Chieko bertemu dengan Nathan, di pagi mereka kembali ke Oxford, Chieko memukul wajah Nathan yang sangat dia banggakan dengan sling bag kulitnya yang berat.
"WHAT THE FUCK, YOU BITCH!!!"
"You're the manwhore! I TOLD YOU TO FUCKING LEAVE REBECCA ALONE! SHE'S MARRIED, YOU BASTARD!!!"
"If you're not a woman, I would've slapped you!"
"Come here and slap me, then! I'd bring you to the cops after that!"
"And between me and Rebecca, it's none of your business! It's between me and her!"
"THERE'S NOTHING BETWEEN YOU AND HER EXCEPT YOUR CRAZY LUST! GO FUCK SOMEONE ELSE!!!" Chieko berteriak keras sekali, sampai orang-orang yang menginap di kamar sekitar situ mendengarnya. Tapi khas orang Inggris, tak ada yang ingin ikut campur. Begitupun turis yang menginap di situ.
"I'm gonna get her sooner or later," jawab Nathan sombong.
"YOU'RE A PSYCHO!!! WHAT PART OF MARRIED CAN'T YOU UNDERSTAND???"
"Everyone forbidden to have is more interesting, don't you think?"
Dosen-dosen dan dekan mereka keluar dari kamar masing-masing lalu menghampiri mereka yang masih saling memandang dengan penuh kemarahan. Untungnya kamar para dosen itu di ujung lain dari lorong lantai itu, sehingga mereka tak mendengar bagian terparah dari pertengakaran Chieko dan Nathan.
"Where's Rebecca?"
"She left first last night," jawab Chieko sambil memandang Nathan dengan tatapan menyalahkan.
"What? She did? But why?" seorang dosen yang termasuk sangat memfavoritkan Rere terlihat kaget.
"Something happened."
"What happened?"
"She has personal reasons."
"Then how did she go home? There were no more flights or trains, because I last saw her at 9 PM."
"By coach."
Di UK, bus AC antar kota disebut "coach."
"Ah, I see. Has she reached Oxford?"
"Yes, she has, Ma'am."
"That's nice to hear. I hope she's alright."
Nathan berani-beraninya tertawa kecil. Sungguh, Chieko nyaris menggamparnya, tapi dia menahan diri karena dosen-dosen mereka ada di depannya.
**********************************
"Mami-Papi nanya, lo mau libur Natal di mana?" Helen bertanya lewat video call.
"Pilihannya di Oxford atau Paris ya?" Gio bertanya balik, sambil membaca laporan stok bahan-bahan food carts.
"Ya terserah sih. Kata Papi lo boleh pilih. Mau di London juga bisa. Atau Roma, Milan. Kita juga ada villa kan di Madrid. Mumpung lo sama Oma udah di Eropa kan. Kita bisa aja mau ke manapun di sana."
"Hm.....ntar gue tanya Rere dulu, deh. Dia pengennya ke mana."
"Ok. Ntar kabarin di grup juga boleh. Dosen pembimbing gue udah dateng nih. Take care ya, Bluey. Jangan lupa makan, lo. Mas Dharma suka cerita lo kalo lunch suka telat banget."
"Oh, sering whatsappan sama Mas Dharma."
"Nanya kabar lo sama Rere aja, kok."
"Kenapa nggak nanya gue atau Rere langsung, coba?"
"Ya nggak apa-apa. Kalian berdua kan sibuk banget."
"Lo juga ya, bukan cuma gue. Jeremy lapor lo suka terlambat minum obat sekarang. Inget, Red, obat lo itu nggak boleh telat diminum sampai dua jam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomansaRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
