115. The Second Funeral

1K 108 45
                                        

Author's Note:

Angst level 6. Yang kuat yaaa.

*********************************

Empat tahun setelah Aji berangkat ke UK, ayah mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Sang ayah tak menyakiti orang lain, hanya menabrak tembok beton lorong jalan tol.

Dia mendapat serangan jantung saat sedang menyetir, dan pergi selamanya pada suatu siang berhujan.

Jeremy menjemput jenazah ayahnya dari RS, memandikannya, mendoakannya sesuai ajaran Islam, lalu menyemayamkannya di Tanuwijaya Mansion.

Kinara mendampingi Jeremy dan melakukan semua yang dia bisa sebagai sekretarisnya.

Aji masih sama, berangkat ke Jakarta dengan Helen, menolak melihat jenazah ayahnya, dan menyuruh Jeremy untuk segera memakamkan ayahnya, bahkan sebelum dia landing.

Saat Jeremy mengatakan pada Kinara untuk menyiapkan undangan pemakaman untuk semua relasi mereka, karena "Kata Aji makamin aja Papa segera," Kinara mendengus.

Karena, kalau ada Team Jeremy selain Gio, orang itu adalah Kinara.

Empat tahun mengenal Jeremy cukup mengajarkannya siapa laki-laki itu.

Jeremy bekerja sangat keras. Memang, Kinara datang lebih pagi. Tapi Jeremy tak pernah pulang sebelum jam 9 malam. Kinara yang sering pulang duluan.

Hidup personalnya memang berantakan, tapi pekerjaannya rapi. Jeremy bisa mengambil keputusan yang baik. Dia punya insting bagus, film dan sinetron mana yang akan laku di pasaran.

Production house Tanuwijaya mencetak banyak tayangan terpopuler se-Indonesia sejak Jeremy jadi CEO.

Dia memang dicap lebih mementingkan uang daripada sisi artistik sebuah karya, tapi kenyataannya Indonesia suka, jadi, apa masalahnya?

Suatu hari, lama sebelum ayah Jeremy meninggal, Kinara pernah menyuruh Jeremy untuk liburan.

"Lo ke mana, kek, Jer. Bali, kek. New York, kek. Ke manalah! Masa hidup lo kerja doang?"

"Nggak usah cerewet. Gue udah kelar makan. Balik ke meja lo, sana."

"Lo udah sebulan ini weekend kerja juga, ya! Lo ini apa sih? Manusia apa bukan?"

"Nggak tahu, cyborg kali."

"Jer! Serius gue ini!"

"Ya gue juga nggak main-main, Kin! Kerjaan gue banyak!"

"Makanya gue tanya, lo kerja kayak orang gila itu buat apa? Perusahaan lo nggak akan mati kalo lo libur seminggu!"

"Because I have nothing else, Kin."

Kinara yang sedang merapikan meja setelah meeting selesai, berhenti bergerak.

"I have nothing else but my work. So don't try to take that away from me."

"Suruhlah adek lo pulang dari UK! Lo itu bukan anak tunggal! Suruh Aji pulang, lo bagi beban lo sama dia!!! Enak banget dia hidupnya, sedangkan lo apa? Lo kerja kayak kesetanan!"

"Biarin aja. At least one member of Tanuwijaya is happy. One of us at least knows how to be happy, Kin."

"You deserve it too, Jer. Nggak seharusnya lo yang nanggung sendiri semua ini!"

"Ya terus siapa lagi???"

Sebuah pertanyaan yang jelas tak ada jawabnya. Yang Kinara tak bisa menjawab.

"Kalo bukan gue, Kin, siapa lagi???"

Mereka berpandangan sejenak, sebelum Kinara akhirnya pergi meninggalkan ruangan.

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang