109. The Aftermath

1.2K 120 22
                                        

Author's Note:

Di KK 3,500 kata ya. Di WP 2,200 kata.

Biarpun udah disensor, chapter ini masih 🔞 ya.

**********************************

Perjalanan pulang Jeremy dan Aji ke Jakarta berlangsung dingin, sedingin es. 

Ada saudara yang sangat dekat seperti Gio dan Helen.

Ada juga saudara yang tak pernah bisa cocok seperti Jeremy dan Aji. 

Sejak kecil mereka terlalu berbeda. 

Diperparah dengan orangtua mereka yang toxic.

Ayah yang hobi selingkuh, dan ibu yang hobi menghamburkan uang untuk menutupi dukanya. 

Jeremy berusaha tetap adil dengan kedua orangtuanya. Dia tahu ibunya dilukai dan disakiti, tapi dia juga sayang pada ayahnya. Itu sesuatu yang tak pernah bisa diubahnya. 

Sedangkan Aji lebih sayang pada ibu mereka. Aji team Mama, sejak dulu. 

Mungkin itu salah satu alasan mereka tak pernah bisa dekat. 

Dan untuk Jeremy, dia sering kesal karena sejak kecil dia selalu ditekan untuk jadi CEO Tanuwijaya Company, sedangkan Aji bebas belajar art, ilmu yang dia dan ayah mereka bilang tak ada gunanya untuk perusahaan. 

Semua diperparah oleh Helen. 

Mungkin satu-satunya bukti mereka adalah saudara kandung adalah Helen--mereka mencintai orang yang sama. 

Jeremy tahu Aji mencintai Helen sejak kecil. Diapun begitu. 

Jadi, yah, seperti memang ditakdirkan untuk tak pernah akur, dua saudara ini. 

Kini, Jeremy sekuat tenaga menahan tangisnya di pesawat, sepanjang perjalanan pulang. 

Ada juga Aji, yang tahu kakaknya baru putus dengan Helen, dan walaupun tak mengatakan apa-apa, di dalam hati, dia senang.

Begitulah manusia, begitulah hati. Tak bisa berbohong.

Sampai di Jakarta, Jeremy mengurung diri di kamarnya selama seminggu. Menangis, menghancurkan barang-barang, dan berbaring diam dalam gelap.

Dia hanya makan ketika ibunya menggedor-gedor pintu dan membawakannya makanan. Menungguinya untuk makan. 

Jeremy dan Aji tidak tinggal di apartemen terpisah dengan keluarga mereka. Mereka masih tinggal bersama di satu mansion. 

Tapi apakah mereka sekeluarga dekat? Tidak. Sama sekali tidak.

Jeremy tak ke kantor. Tak bekerja. Tak memegang hpnya sama sekali. 

Hari Minggu, seminggu setelah kepulangannya dari UK, ayahnya datang.

"Besok kerja. Perusahaan butuh kamu," ayahnya, Harris, duduk di ranjang Jeremy. 

Jeremy tak menjawab, diam menatap langit-langit kamarnya. 

"Kamu begini karena Helen?"

Mendengar nama Helen, Jeremy menoleh ke ayahnya. 

"Aji yang bilang?"

"Ya. Papa sudah bingung, kamu nyaris nggak makan seminggu. Papa tanya dia."

Jeremy tersenyum sinis. 

"She loves him."

"Who?"

"Helen. She loves Aji."

"Dari mana kamu tahu?"

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang