124. Between Oceans

996 107 8
                                        

Bagaimana cara seseorang mengabari adiknya sendiri kalau dia akan menikah dengan sang mantan adik tersebut? 

Jeremy selalu menganggap keadaan cinta segitiga antara Helen, dirinya dan Aji sangat dramatis, tak kalah dengan sinetron-sinetron dengan plot berlebihan yang masih digemari banyak penonton di tanah air. 

Dia tak meremehkan penonton yang menyukai plot seperti itu, mengingat Tanuwijaya Production House juga mendulang pemasukan terbanyak dari sinetron-sinetron semacam itu, tapi untuk mengalaminya sendiri di dunia nyata, dia merasa itu terlalu konyol.

Namun yah, baginya itu adalah sebuah kenyataan hidup. Hubungan dia dan Aji memang tak pernah dekat, tapi dia merasa perlu mengundang Aji ke pernikahannya sendiri. 

Apakah Aji akan sakit hati, dan membuat hubungan mereka yang sudah buruk menjadi tak akan pernah terselamatkan?

Tetap saja, dia merasa perlu mengabari. 

Setidaknya, walaupun Aji tak akan datang, dia akan mendengarnya dari Jeremy sendiri, bukan dari orang lain, apalagi sekedar dari social media. 

Untuk menelepon pun rasanya Jeremy enggan. Aji tak segan untuk meledak secara emosional padanya, bahkan sejak mereka kecil.

Jeremy yang belum pernah merasakan murka pada adik sendiri. 

Akhirnya, dia memutuskan mengirim whatsapp. 

J: Ji, gue mau nikah sama Helen hari Minggu ini, di mansion Ranggatama, jam 10 pagi.

Jeremy tak mengharapkan jawaban segera. 

New York dan Jakarta berbeda waktu dua belas jam. 

Dia mengirim pesan whatsapp ke Aji sekitar jam 3 sore. Di New York harusnya masih jam 3 pagi. 

Dia siap kalau Aji tak membalas pesannya, bahkan langsung membloknya pun, dia rasa itu cukup masuk akal. 

Yang dia tak sangka adalah jawaban Aji yang masuk sekitar pukul jam 7 malam, yang artinya sekitar jam 7 pagi waktu New York. 

A: akhirnya ya Bang.

J: udah? Gitu aja reaksi lo, Ji? Lo nggak banting kursi atau meja di sana, kan?

A: haha. Gue yang tenang gini malah aneh, ya, Bang?

J: lo beneran udah move on, dan sekarang sama yang namanya Dania itu?

A: iya. It's been two years setelah gue dan Kak Helen putus. It was hard at first, tapi yah, mau nggak mau gue harus bisa. Karena gimanapun, hubungan yang dilandasi dengan rasa kasihan itu nggak akan bikin gue bahagia. 

J: wow. Gue nggak nyangka, Ji. Gue nggak nyangka akan ada hari di mana lo akan pernah bisa move on dari seorang Helen Ranggatama.

A: bentar lagi bakal jadi Helen Tanuwijaya, kan? Biarpun karena abang, bukan karena gue.

J: .......this time, I'm not going to apologize.

A: nggak ada yang minta abang minta maaf. Gue nggak pernah merasa abang perlu minta maaf. Mama pergi, Papa pergi, semua itu bukan salah abang. Thank you, Bang, for being a proper Tanuwijaya all these time. It's me who left you. You've always stood your ground. 

Membacanya, Jeremy jadi ingin menangis. 

J: thank you. I'll be glad if you can attend my wedding, Ji.

A: gue datang, Bang. Sama Dania, ya. Kalo resepsinya jam berapa, Bang, jaga-jaga kalau gue nggak bisa datang akadnya.

J: nggak ada resepsi, Ji. Ini private wedding, kok.

A: hah? Seorang Helen Ranggatama bisa nikah private wedding, Bang? Kirain gue mami-papinya bakal ngundang 5,000 orang.

J: karena dia udah hamil anak gue, jadi kita nikahnya buru-buru.

Never Say NeverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang