Author's Note;
Sangat rated. Jauhi kalau kamu belum 18 tahun
Di KK 2,900 kata, di WP 1,200 kata. Banyak banget yang harus dicut, soalnya ini emang that kind of chapter.
**********************************
Setelah berpisah sebulan, menyelesaikan skripsi, sidang dan revisi, serta naik pesawat dua hari, akhirnya Gio bisa seranjang lagi dengan Rere. Rere yang cantik, seksi dan berbaring di ranjang sambil tersenyum menatapnya.
Dia sudah mencium bibir Rere berkali-kali. Rasanya tak puas-puas merasakan manisnya bibir istrinya, sebelum beralih ke pipi, kening, hidung dan dagunya, lalu turun ke leher, lidahnya menyapu dan merasakan rasa yang dirindunya.
"I miss you so bad, Re. Kamu kangen nggak sama aku?"
"Kangen."
Gio sampai kaget, duduk tegak lalu memandang Rere yang sedang menggigit bibir karena malu.
"Beneran?"
"Iya. Udah biasa berdua, tahu-tahu sendiri. Kayak rumah ini besar banget. Too quiet. Aku pasang musik terus."
".........I wasn't alone in feeling lonely."
"Iya."
"You missed me too, Re."
"Iya."
"Do you need me too?"
"I do....." Rere berbisik, lirih sekali.
Gio merasa perutnya bergejolak dan jantungnya langsung berdetak kencang tak karuan.
Dia tahu, berat sekali untuk Rere mengaku rindu. Kenyataan bahwa Rere sudah mau mengakui dia juga rindu artinya mereka sudah melalui perjalanan yang sangat jauh.
*************************************
Gio tertawa setelah ciuman mereka.
"Either you miss the sex, or you really miss me. Which one is it?"
"Both," Rere menjawab, kehabisan napas.
Rere belum pernah mabuk karena alkohol, tapi dia yakin rasanya seperti ini.
"Aku cuma bisa-- sama kamu, Re. Aku cuma-- mau kamu."
"Jangan pernah-- tinggalin aku. Aku nggak bisa-- nggak ada kamu."
Yang istimewa adalah, ketika Gio tersenyum puas, Rere juga balas tersenyum. Dilanjutkan dengan ciuman-ciuman lembut yang manis dan panjang. Gio memegangi wajah Rere, dan Rere memejamkan matanya.
"So yummy," Gio bergumam, masih sambil tersenyum bahagia. Rere tertawa, sebelum dagunya digigiti Gio dengan lembut.
**********************************
Setengah jam kemudian, mereka melahap makanan dari Ranggatama Oxford. Menunya ala nasi Padang; rendang, perkedel kentang, sayur nangka dan sayur singkong.
"Sini sambal hijaunya buat aku," pinta Rere.
"Kan kamu udah makan punya kamu."
"Kan kamu nggak makan. Aku abisin sini."
"Sakit perut nanti."
"Nggak. Ini tuh nggak pedes sambalnya."
"Gila. Kayak gini kamu bilang nggak pedes?"
"Emang nggak," jawab Rere, mengambil bungkusan sambal hijau Gio, dan mencampurnya dengan nasinya.
Gio hanya geleng-geleng kepala melihat Rere.
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
