Author's Note:
This chapter was published as an early access on KK last week.
Thank you so much yaaa, buat yang beli first accessnya.
Chapter ini nggak ada rated scenenya, jadi aman dibaca waktu puasa.
******************************************
"Ndaaaa, Yayaaaaaa! Bangunnnnnnn, sarapannnnn. Ini udah jam 10!" Gwen berteriak sambil menggedor pintu kamar tidur Rere di rumah Opanya di Medan.
Rere terbangun. Matanya terasa amat berat untuk dibuka.
"Ndaaaa! Yayaaaa! Your usual breakfast time is 7 AM! You're already 3 hours late! We don't want you two to get sick!" Richie ikutan berteriak di balik pintu kamar tebal yang berkualitas tinggi itu.
Rere ingin membuka pintu kamar dan menenangkan dua anak kembarnya yang cerewet itu. Dia berusaha duduk, tapi tak bisa bergerak.
Tangan Gio membelit erat pinggangnya.
Lebih parah lagi, Rere baru ingat, dia telanjang di bawah selimutnya. Bisa gawat kalau si kembar melihatnya dalam keadaan begini.
"Gi, bangun. Si kembar udah tantrum tuh, nyuruh kita sarapan."
"Mm, lima menit lagi."
"YAYAAAAAA!!! NDAAAAA! IF YOU DON'T OPEN THE DOOR SOON, I'M GETTING THE EXTRA KEY FROM OPA!!!" ancam Gwen.
"Tuh, kalo mereka ambil kunci serep dan lihat kita naked gini, bisa gawat, Gi!"
"Biarin, pelajaran Biologi."
"Gila! Lepas! Aku mau ambil baju!"
Gio terkekeh, tapi melepas belitannya di pinggang Rere.
Rere langsung bangun dari ranjang, mencari pakaian dalamnya yang dilempar ke sana-sini oleh Gio, juga dress katun yang dipakainya semalam. Setelah berpakaian, dia juga mengambilkan pakaian Gio. Kalau ini gampang. Gio hanya melemparnya ke lantai sebelah sisi ranjangnya sendiri.
Gio berpakaian sambil menguap.
Setelah yakin Gio cukup rapi, Rere berlari untuk membuka pintu kamar tidur -- karena kamarnya memang seluas itu.
"There you are," Richie berseru lelah, sudah seperti kakek-kakek.
"Aku panasin buburnya, ya!" Gwen berseru dengan bersemangat, sudah melesat cepat ke lantai bawah sebelum Rere sempat berkata apa-apa.
Kadang si kembar memang suka sok tahu begitu, sok parenting orangtua mereka sendiri.
Sebetulnya itu memang ajaran Rere. Makan harus di waktu yang teratur. Kalau ada keluarga yang terlambat makan harus diajak makan, agar tidak jatuh sakit.
Tentunya si kembar melakukan yang sama untuk kedua orangtuanya.
"You both slept so long, Nda. Are you unwell?" Richie bertanya dengan serius.
"We're -- ehem-- ok."
"Gwen and I have been wanting to say this for a while. We think you two should consider to reduce exercising. From what I remember, Nda, and you know I never forget things, you and Yaya exercise three times a week on average. It could be dangerous for you."
Richie ceramah begini sambil melangkah masuk ke kamar orangtuanya, sementara mata Rere dengan was-was melihat seisi kamar, takut sekali ada pengaman bekas yang dilempar Gio sembarangan.
Gio masih duduk di ranjang, sudah dengan t-shirt dan celana pendeknya, mendengarkan celotehan Richie dengan senyum lebar.
"You think Nda and I should reduce exercising?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Never Say Never
RomanceRebecca adalah mahasiswi paling cerdas di kampus. Pemenang berbagai penghargaan, ketua angkatan, dan dijuluki kampus queen. Populer, cantik dan smart. Pacarnya ganteng, sahabatnya juga keren. Tapi dunianya runtuh ketika dia tahu pacarnya selingkuh...
